Showing posts with label Cinema 21. Show all posts
Showing posts with label Cinema 21. Show all posts

Movie Review : Shutter Island [2010]

Cast : Leonardo DiCaprio (Teddy Daniels), Mark Ruffalo (Chuck Aule), Ben Kingsley (Dr. Cawley), Max Von Sydow (Dr. Naehring), Michelle Williams (Dolores Chanal), Jackie Earle Haley (George Noyce).
Sutradara : Martin Scorsese
Naskah : Laeta Kalogridis dan Dennys Lehane
Tanggal Rilis : 3 Maret 2010 [Indonesia]
Durasi : 138 Menit
Genre : Crime, Drama, Mystery, Thriller,
Tagline : Someone Is Missing
Distributors : Paramount Picture

Review : Akhirnya nonton juga film ini, setelah menunggu lama dan setelah makin penasaran karena membaca ulasan baik dari blog film tetangga sebelah maupun media cetak seperti majalah film hasrat untuk nonton film ini makin serius saja. Martin Scorsese adalah sutradara yang sangat perfeksionis untuk urusan kualitas filmnya, tengok saja vitamin yang selalu diberikannya pada karya sebelum film ini kelar. rata-rata semuanya kelas A dan dipastikan selalu berujung pada acara festival bergengsi sedunia, hebatnya lagi kini dia memiliki anak asuh yang sangat tepat bernama Leonardo DiCaprio yang tak pernah bermain cetek disetiap filmnya kecuali The Beach yang memang rusak parah dari berbagai sisi. jelas kolaborasi keduanya merupakan tambang emas yang sangat berkualitas tinggi untuk kemudian dinikmati dalam sajian seni yang pekat dengan makna, meski terdengar terlalu serius. namun tidak melulu membuat film ini harus dihindari oleh penonton umum mengingat pembuktian kali ini adalah penguasaan tangga Box Office yang perkasa sebelum beberapa film popcorn datang menjegalnya, hal ini juga menjadi ending yang sama dengan The Departed yang juga laris manis dipasaran sekaligus berkualitas tinggi yang sanggup memenangkan berbagai piala bergengsi semacam Oscar.

Sinopsis : Film ini secara umum (21cineplex.com) Tahun 1954, dua Marshall Amerika menyelidiki hilangnya salah seorang pasien di rumah sakit para tahanan disebuah pulau di Massachusetts. Mereka menemui banyak rintangan saat mereka menginterogasi kepala rumah sakit, badai dahsyat dan semua keganjilan-keganjilan disekitar rumah sakit tersebut.


Keganjilan demi keganjilan yang datang menuruni setiap scene film ini terlihat begitu fantastis dengan penghayatan tingkat tinggi dari semuar element dalam filmnya, Leonardo bermain terbaiknya sebagi Teddy disini. kualitas aktingnya begitu baik sejajar dengan performa sebelumnya dalam Revolutionary Road, The Departed, dan Blood Diamond. selain Leo, hampir semua pemain begitu sempurna dalam penghyatan karakter yang diembannya, terhitung mulai Mark Ruffalo, hingga Haley yang sebentar lagi akan kita lihat lagi aktingnya dalam Nightmare On Elm Street sebagai Freddy. selain cerita dan kualitas Akting dari pemainnya, film ini juga sangat mengusung suasana noir yang kental dan detail. iringan musik score dan beberapa penggalan lagu klasik membuat tingkat kemisteriusan film ini makin terjaga dengan baik untuk mengantarkan penonton pada ending yang yang kerap membuat orang takjub tentang apa yang sebenarnya terjadi, penggambaran halusinasinya juga begitu indah sekaligus menakutkan dan mencekam untuk kita dalami.

Overall, terlalu lebay memang jika kita menanjungnya setinggi langit. namun hal itu kemudian dapat dimaklumi mengingat keakuratan dan tingkat detail yang diberikan begitu hangat dan sangat berkualitas melebihi ekspektasi penonton sebelumnya, untuk malasah ending 20 menit terakhir dalam film ini bukanlah masalah hal itu kemudian seperti gampang ditemukan kunci jawabannya. namun perjalanan menuju ending dari awal film ini membuat kita bilang bahwa inilah mahakarya berkualitas yang patut diapresiasi lebih mengingat tiap jengkal dari kisahnya dibuat setulus hati hingga berdampak manis yang akan dikenang oleh penonton setidaknya satu dekade kedepan.

Jelas Film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton bila bioskop di daerah masih memutarnya, dan kemudian dikoleksi untuk konsumsi home video pada saat perilisan DVD/BD originalnya kelar nanti..


Movie Review : The Book Of Eli [2010]

Bagi saya tidak banyak aktor kulit hitam yang minimal baik secara akting maupun memiliki popularitas sebagai aktor favorit, dan jelas Denzel Washington berada dalam list pemain kulit hitam paling top selain Will Smith dalam dunia perfilman. film The Book Of Eli yang sedianya dirilis januari yang lalu memang menajdi incaranku sebagai film pembuka tahun 2010 selain Edge Of Darkness yang sudah sukses saya tonton awal tahun tersebut, namun ternyata khusus film Washington ini mengalami penundaan dalam perilisannya di Indoensia.

Poster Film The Book Of Eli [2010]

Secara umum film ini bercerita tentang (21cineplex.com) suatu masa di masa depan, tiga puluh tahunan setelah perang terakhir, seorang pria berjalan kaki menyusuri kota mati yang dahulunya adalah Amerika. Jalanan menjadi milik kelompok-kelompok jahat yang sanggup membunuh demi sepasang sepatu, seteguk air atau demi tanpa apa pun. Namun kekuatan mereka tidak sebanding dengan musafir ini. Seorang ksatria dengan sebuah tugas, Eli (Denzel Washington) mencari kedamaian, namun jika ditantang, ia akan mengalahkan semua penyerangnya sebelum mereka sadari kesalahan mereka. Bukan nyawanya yang ia jaga melainkan harapan untuk masa depan, sebuah harapan yang ia bawa dan lindungi selama tiga puluh tahun. Dorongan komitmen dan kepercayaan yang lebih besar dari yang ia miliki, Eli melakukan apa yang seharusnya ia lakukan dan terus menerus. Hanya ada satu lawan yang mengetahui kekuatan Eli, dan ia ingin merebutnya yaitu Carnegie (Gary Oldman), raja egois yang memimpin kota para pencuri dan penembak. Sementara itu, anak angkat Carnegie, Solara (Mila Kunis) terpesona oleh Eli karena alasan lain visi yang ditawarkan Eli melebihi yang dimiliki ayah tirinya. TIdak mudah mengalahkannya. Tidak ada tidak seorang pun dapat menghalanginya. Eli harus mencapai tujuannya dan membawa bantuan bagi umat manusia

Film ini pada awalnya memiliki pemandangan khas film lain yang beraroma post-apocalyptic atau jaman pasca kiamat semisal I Am Legend, The Road, Terminator Salvation, Waterworld, dan lain lain, kelebihan film ini mungkin terlihat pada imbuhan action dari Denzel dengan kelompok manusia yang semakin kanibal tersebut. konsep cerita yang bawa oleh film ini sedikit mengarah pada sisi religius dan mungkin lebih tepat sebagai film religius namun dengan tambahan action didalamnya, perjuangan Eli untuk melindungi buku ini sebenarnya cukup aneh apabila dia kemudian bertujuan untuk membuat manusia kembali menjadi manusia dan memiliki rasa kemanusiaan mengingat kondisi pasca kiamat di film ini menggambarkan manusia-manusianya memiliki cara berfikir yang instan dan primitif semenjak makin berkurangnya harapan untuk bertahan hidup secara standard semisal makan minum dan lainnya. imbuhan action jelas berpengaruh terhadap hasil akhir dari film ini, terlihat meski sedikit namun gaya "perang" yang diperlihatkan cukup maksimal ditengah dunia yang sudah tidak terurus dan sangat muram durja ini. Menilik kualitas acting terutama untuk Denzel Washington, dia bermain baik disini meski bagi saya masih berada jauh dibawah Indside Man [2006] dan berselisih tipis dengan American Gangster [2007]. dengan pakaian lusuh dan bibir kering serasa sudah berhari-hari belum minum namun memiliki insting bertarung yang jujur sangat hebat untuk kalangan orang yang sedang dilanda dehidrasi, Gary Oldman juga bermain bagus di film ini dan ternyata juga sanggup bermain dikarakter jahat yang berbanding terbalik dengan peran sebelumnya dalam film The Drak Knight [2008]. yang terlihat kurang mungkin akting Mila Kunis yang hanya kebagian peran "pemanis" dalam film ini, karakternya kurang berkembang meski cukup sentral dari awal hingga akhir selain kedua aktor diatas.

Overall, sangat disayangkan memang Denzel Washington mau terlibat dalam film ini mengingat temanya yang agak popcorn meski secara spesifik masih original terutama bagian pengembaraan ini setidaknya sebelum film ini belum ada yang mengangkat tema religius pasca kiamat, bagaimanapun Denzel tetap menjadi penyelamat film ini layaknya I Am Legend yang terlselamati oleh Will Smith tempo hari. dan bahkan beberapa pengamat mengatakan bahwa film The Book Of Eli merupakan salah satu film terburuk milik Denzel Washington, namun apapun itu film ini masih memiliki point positif. agak kurang begitu recomended kecuali bila anda memang menyukai kisah post apoclypstic semisal knowing dan kawan-kawannya.

Pemain : Dnezel Washington, Gary Oldman, Mila Kunis, Ray Stevenson, Jennifer Beals, Frances De La Tour, Micahel Gambon.
Sutradara : Albert and Allen Hughes
Durasi : 117 Menit
Penulis Naskah : Gary Whitta
Produser : Joel Silver, Denzel Washington, Susan Downey.
Distributor : Columbia Pictures
Homepage : http://thebookofeli.warnerbross.com/


Movie Review : Hari Untuk Amanda [2010]


Pemain : Oka Antara, Fanny Febriana, Noveletta Dinar, Aida Nurmala, Kinaryosih,
Sutradara : Angga Dwimas Sasongko
Naskah : Salman Aristo, Ginatri S. Noer
Produser : Dedy Abdurachman
Tanggal Rilis : Januari 2010
Genre : Drama Romantis
Kategori : Home Video/VCD/DVD
Negara : Indonesia
Distributor : MNC Pictures, Visinema Pictures, 
Durasi : 95 Menit

Plot : Amanda [Fanny Febriana] dan [Reza Harardian] dalam sepuluh hari kedepan akan segera melangsungkan pernikahan, karena pekerjaan super sibuk sehingga membuat Amanda  kesepian dan mengurusi segala sesuatunya sendirian, sebuah kado dari Hari [Oka Antara] membuat Amanda kembali menemui Hari yang tak lain adalah mantan pacarnya. kedatangan kembali Amanda kerumah Hari hingga Hari mau mengantarkan undangan pernikahannya perlahan membuka kembali tabir masa lalu diantara keduanya, namun siapakah pilihan hati Amanda yang sesungguhnya??

Komentar Kami : Di jaman sekarang atau paling tidak dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, pergeseran tema film di negeri ini semakin mengarah kepada jenis yang seragam dan cenderung  monoton. karena sebelumnya tidak banyak tema horror yang diangkat segila dan semembeludak seperti sekarang, kreatifitas bukan dikembangkan pada genre selain komedi, drama, dan horror, melainkan tema "sampingan" yang bisa dikais dari 3 tema sentral tersebut. kemudian setelah habis digali dalam-dalam, ujung kendali selanjutnya disilang sesuka hati untuk mengaburkan perkiraan penonton akan tema yang sudah mulai jenuh dengan teori sebelumnya. tidak ada memang dalam satu film hanya terdapat satu macam genre, namun perkawinan silang yang banyak dilakukan oleh sineas-sineas beberapa tahun terakhir ini semakin kacau meski secara siasat-menyiasati kelesuan penonton dan secara hitungan ekonomis benar.

kawin silang disini mungkin berkonotasi negatif dan bahkan berujung kontroversi, namun hal itu terbukti sangat ampuh dihari pertama pemutaran atau hanya sekedar menghebohkan sampai menjubeli surat kabar dan berita-berita televisi terutama gossip pagi hari untuk menemani ibu-ibu memasak didapur dan membuat para orang tua, pengamat film, dan masyarakat umum prihatin dengan kondisi perfilman saat ini. bagi saya tema horror kawin silang dengan komedi nyaris membuat saya selalu prihatin apalagi ditambah doorprice aksi pamer paha, belahan dada, dan bokong semok. namun seperti biasa, kemudian akan datang sebuah karya seni "superhero" untuk menyelamatkan atau memberi gambaran lain dari tema horror-komedi-seks tersebut. bukan bermaksud men-superior-kan film ini, namun fakta yang terjadi tidak bisa kita tutup-tutupi bahwa film ini datang dengan semangat indie atau pengistilahan lain dari trend perfilman yang beraksen negatif seperti yang telah saya tulis diatas, film ini sangat baik kualitasnya daripada tema diatas dan itu jelas.

kembali ke filmnya, cerita tentang CLBK atau cinta lama bersemi kembali ini di susun dengan semangat akting pemain yang luar biasa baik. Oka Antara [Hari] seperti biasa aktingnya semakin baik saja hingga dalam setiap sikapnya mampu kita pahami dengan beberapa potongan sejarah cintanya yang "nampaknya" begitu manis dengan Fanny Febriana [Amanda] dan kembali datang untuk meyakinkan Amanda, begitu pula dengan Fanny Febriana yang cukup mengimbangi pesona Oka Antara. chermistry keduanya dapat dengan mudah membawa penonton kepada sebuah peristiwa yang dekat dengan keseharian kita apalgi bagi anda yang mempunyai kisah yang sama dengan film ini. untuk ukuran sebuah drama yang simple yang hanya dilakukan dalam satu hari kejadian, film ini jauh lebih berkualitas dibandingkan rombongan horror bikini yang merajalela belakangan ini.

sokongan kualitas akting dari para pemain bukanlah satu-satunya penolong film ini, karena twist yang diselipkan di penghujung film membuat karakterisasi dan alur yang makin mantab menjelang ending. adapun point positif lainnya datang dari soundtrack yang pas dan mampu memberi feel lebih pada jiwa film ini yang mengisyaratkan kegundahan akan pilihan hidup dan pilihan kekasih terbaik bagi Amanda, film ini adalah sebuah drama hidup seorang Amanda dan kepada siapa hati Amanda yang sesungguhnya dilabuhkan.

pada akhirnya mengulik semua vitamin film ini menyadarkan saya akan sesuatu yang sedang saya alami dan menjadikannya sebagai pelajaran mahal untuk kedepannya, dan untuk ukuran kualitas sebuah film dalam negeri penyelamat itu datang bukan lagi berbentuk otot kekar yang mampu menghancurkan sebuah tembok yang maha kuat namun hanya berupa hati yang terkadang mampu dengan mudah melunakkan semua jenis halangan. dan tahun 2010 ini diawali dengan baik oleh film ini, meski sayang kemaren saya belum sempat untuk menyaksikannya di gedung bioskop yang kini saya saksikan lewat home video.

bagi penyuka film romantis, tidak banyak yang saya rekomendasikan bila film yang dimaksud adalah film dalam negeri. namun apapun itu, film ini jelas menempati lima besar film romantis indonesia satu dekade terkahir ini, jadi apakah patut dikoleksi? jawabannya adalah wajib..

Movie review : Hachiko : A Dog's Story [2010]


Sinopsis : sepulang dari kerja, Profesor Wilson [Richard Gere] mendapati seekor anjing yang tersesat. berusaha ingin mengembalikannya, kemudian anjing lucu ini malah diadopsi oleh Wilson. anjing ini pun kemudian diberi nama Hachi sesuai dari nama dalam bahasa jepang yang terdapat dikalungnya, kedekatan keduanya terus terjalin hingga maut memisahkan keduanya.
.
Cast : Richard Gere (Parker Wilson), Sarah Roemer (Sarah Wilson), Joan Allen (Cate Wilson), Robert Capron (Student), Jason Alexander (Carl), Cary-Hiroyuki Tagara (Ken), Kevin DeCoste (Ronnie), Forest (Hachiko).
.
Sutradara : Lasse Halstrom
Naskah : Sthepen P. Lindsey, Kaneto Shindo
Tanggal Rilis : 08 Agustus 2009 [Jepang]
Durasi : 93 Menit
Genre : Drama, Family
Tagline : A True Story Of Faith, Devotion And Undying Love
Distributors : Inferno Distributions
.
Komentar kami : Sebuah drama yang pada awalnya saya pikir akan sangat membosankan diubah dengan cerdik oleh film ini, okelah sebelum saya menulis kalimat diatas terlebih dahulu berburu opini dari blog film sebelah untuk mengetahui lebih jauh tentang kehebohan film ini yang katanya mampu menguras air mata. barulah kemudian saya mencoba untuk nonton akibat dari beberapa opini yang saya dapatkan tersebut, dan barulah saya menulis kalimat diatas. bagi yang yang sudah familiar dengan kisah nyata anjing yang diberi nama Hachiko sesuai dengan nama dalam kalungnya ini pasti akan merasakan dampak luar biasa terhadap film ini, apalagi bagi yang suka dan sedang memelihara hewan tersebut pastinya akan mendapatkan pengalaman yang luar biasa terhadap film ini. namun saya sendiri lain dari kriteria tersebut, meski bagi saya sebagai penikmat film haruslah fair dalam menilai sebuah tayangan sinematik.

kemudian opini pun muncul untuk mengatakan bahwa film ini memang sangat baik, "akting" Hachiko sangat pas untuk membantu mereka yang tidak mempunyai atau memelihara seekor anjing supaya dengan mudah memahami apa yang dipikirkan oleh Hachi, Richard Gere seperti biasa cukup memberi sosok karismatik seorang profesor dalam cerita film ini hingga kedekatannya dengan Hachi. tema yang sederhana tak lantas membuat film ini menjadi monoton dan ditinggal penontonnya, kesetiaan Hachi untuk terus mengantarkan majikannya ke sebuah stasiun kota lalu pulang dan jam 5 sore Hachi pun sudah menunggu tuannya di stasiun adalah pelajaran yang baik hingga bahkan mulai dilupakan oleh manusia.

balas jasa yang diberikan oleh Hachi atas pertolongan dan cinta dari sang profesor membuat Hachi rela sembilan tahun menunggu distasiun menanti kedatangan tuannya yang telah lama wafat karena serangan penyakit adalah harga yang sangat mahal untuk ditemukan dalam era modern ini, apalagi kita sebagai manusia khususnya Indonesia sudah mulai tergerus budaya sosial dan merubahnya dengan sikap individualis membuat tokoh Hachi seakan sebuah pesan kronis untuk direnungkan.

bagi pencinta film drama, hewan, dan film tentang hewan, jelas film ini harus masuk daftar list koleksi anda. eniwey, sayangilah apapun hewan peliharaan anda karena bagaimanapun sebenarnya mereka juga butuh kasih sayang dari kita. pesan ini juga saya dapatkan dari film tentang hewan sebelumnya yaitu How To Train Your Dragon, tak ada perbedaan diantara keduanya kecuali animasi tentunya.


Sinopsis : Selama pendudukan Amerika di Baghdad tahun 2003, Kepala Perwira Roy Miller (Matt Damon) dan tim inspektur Angkatan Darat dikirim untuk menemukan senjata pemusnah massal yang diyakini disimpan di padang pasir Irak. Melacak situs bom berbahaya, para perwira ini mencari agen kimia berbahaya namun tersandung pada hambatan yang dapat membatalkan misi mereka. Dipusingkan oleh jadwal operasi yang dipercepat, Miller harus memburu agen tersebut melalui intelijen rahasia dan tersembunyi untuk mendapatkan jawaban yang jelas tentang kejahatan perang di wilayah yang tidak stabil. Dan saat keadaan makin memanas, Miller menemukan senjata yang paling sulit dipahami dari semuanya yaitu kebenaran
Penggalan Cuplikan Dari Film Green Zone [2010]


Review : Bicara film Green Zone tak ubahnya ketika kita sedang mengulik kembali franchise Bourne yang mengusung pemain, sutradara, dan beberapa element lainnya dalam film tersebut. namun disini Matt Damon bukanlah penderita amnesia, karena Miller (Damon) adalah pasukan khusus yang bertugas di Irak untuk mencari keberadaan sebuah senjata Kimia/Biologi. sejak peristiwa 9/11 Amerika memang giat dalam memerangi teroris ke seluruh penjuru bumi, namun khsusus film ini ada pandangan berbeda tentang perang yang sebenarnya dikumandangkan oleh negeri paman sam. sebuah usaha yang berujung kontroversial memang, namun bisa jadi hal tersebut memang kebenaran yang belum kita pahami.

Akting Matt Damon cukup baik disini menandakan bahwa Paul merupakan penyelamat setelah beberapa kali main difilm lainnya yang ternyata kurang direspon positif oleh beberapa kalangan, setelah sukses menghidupkan karakter Bourne yang dingin namun mematikan di film ini Damon juga lumayan berhasil menghidupkan karakter Miller yang kerap mempertanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi dibalik misi yang berujung nihil tersebut. sebagai musuh, Yigal Naor juga terlihat bengis namun tenang dengan prinsip yang dianutnya. begitu pula dengan pemeran reporter, Agen CIA, dan pemegang kunci anatara Irak dan Amerika, semuanya bermain baik.

Secara teknis, setting Irak yang ditampilkan disini merupakan visualisasi yang sangat mengagumkan dan tampak real. padahal perlu diketahui, tampilan Irak disini bukanlah Irak yang sebenarnya alias syuting ditempat lain diluar Irak. point tersebut nampak terjalin dengan baik apalagi dengan tambahan score dari John Powell yang memang ahli dalam meracik nada-nada tegang dan mencekam untuk mendukung feel dalam filmnya, selain itu ciri khas Paul yaitu Handheld Camera tetap dipertahankan dalam film ini sehingga terciptalah suasana film yang digabung anatara kamera yang berdetak cepat secepat jantung berdebar diiringi oleh score yang mencekam yang terlihat juga dari suasana Irak yang tidak pasti dan penuh misteri karena sewaktu-waktu kita bisa celaka dibuatnya.

Well, pada akhirnya tema yang sensitif ini tetap menghantui penghasilan film ini hingga detik ini. karena melihat Hurt Locker yang meraih enam Oscar saja tidak laris yang padahal temanya sudah bersahabat dengan Amerika, apalagi dengan tema sesensitif seperti karya Paul ini. namun meski begitu film ini tetap baik dan sangat direkomendasikan untuk ditonton baik bila dibioskop sudah mabis masa tayangnya maka home video merupakan jalan selanjutnya. karena sepertinya harga Blu Ray dan DVD sekarang semakin murah saja demi menarik minat konsumen untuk mengoleksinya kelak.

Pemain : Matt Damon (Roy Miller), Yigal Naor (General Al-Rawi), Nicoye Banks (Perry), Said Faraj (Seyyed Hamza), Jerry Della Salla (Wilkins), Sean Huze (Conway).
Sutradara : Paul Greengrass
Naskah : Brian Helgeland dan Rajiv Chandrasekaran
Tanggal Rilis : 12 Maret 2010
Durasi : 115 Menit
Genre : Action, Drama, Thriller, War.
Tagline : "Chief Warrant Officer Roy Miller is done following orders"
Distributor : Universal Pictures
Rating : R



Catatan Nonton Bulan Maret 2010

Bukan tanpa terasa Bulan Maret 2010 telah kita tinggalkan, terhitung mulai penantian mendebarkan saat Alice In Wonderland 3D akan dirilis tanggal 4 Maret yang lalu bagi saya terasa begitu lama. dan setelah hari itu terlewati dengan segudang kegundahan hati karena terlampau kecewa terhdap filmnya, karena sungguh diluar dugaan bila Alice yang begitu saya nanti kemudian menjadi hidangan "Tea Party" yang terasa agak pahit buatan Mad Hatter yang memang bener2 "Mad". kesalahan Alice karena terlanjur masuk ke dunia yang salah membuat saya melupakan tidur sebagai rutinitas setelah jam 10 malam. pertanyaan yang membuat saya gusar adalah, dunia apa Underland itu? bukankah Alice harus masuk ke dunia Wonderland? Namun diluar itu, pujian pantas saya haturkan kepada piahk bioskop untuk beberapa judul dirilis terpaut satu hari hingga satu minggu dengan perilisan dinegara asalnya yaitu Amerika. senang rasanya menikmati How To Train Your Dragon 3D di awal2 pemutaran, apalagi isi filmnya juga diluar ekspektasi semua pihak hingga menjadikannya hiburan yang terasa surprise bagi penonton termasuk saya pribadi.

1. Alice In Wonderlnad 3D
2. Confucius
3. How To Train Your Dragon 3D

Kemudian ada Confucius yang saya tonton dengan tanpa pertimbangan apapun di CITO 21, bagi saya faktor Chow Yun Fat sudah cukup membantu meski Forbidden Kingdom masih menjadi luka yang dalam karena keterlibatannya disana. dan ka booommm, film ini sukses membuat saya ngantuk dan beberapa kali merasakan kursi bioskop terasa kurang nyaman. bukan, bukan karena bioskop dan kursinya yang buruk, namun saya merasakan kegelisahan tentang film yang sangat lambat ini. apalagi penonton disebelah saya sedang bercinta didalam bioskop hingga beberapa kali kursi bioskopserasa bergoyang, hei hari gini masih bercinta didalam gedung bioskop??? come on guys kalian tentu membuat saya tersinggung sebagai pencinta film.

Dari ketiga film yang saya tonton bulan ini (Maret), pemenangnya tentu saya sematkan kepada Hiccup karena telah berhasil menjinakkan berbagai Naga dan jenisnya dalam film How To Train Your Dragon. film ini sangat menghibur bagi saya, dan kelihatannya begitu pula dengan penonton lain yang beberapa kali tertawa lepas saat menyaksikan film ini. juara kedua dengan berat hati saya berikan kepada Alice yang berencana pergi ke Borneo dan Sumatra setelah mengetahui ayahnya dulu pernah pergi ke Jakarta, hmm nduk Alice nggak pengen ke probolinggo?? ntar tak masakin kelinci panggang lho wkwkwkwkwkwkwkwk. btw, semoga film dibulan april tidak mengecewakan saya lagi. karena bagaimanapun akan selalu ada cerita dibalik tiket bioskop yang sudah susah payah saya beli, namun hal itu juga tidak menyurutkan saya untuk terus nonton film di bioskop karena bagi saya nonton dibioskop itu lebih nikmat daripada nonton lewat DVD Bajakan, salam moviemania..

Movie Review : Confucius (2010)


CITO 21, Row A-8, Studio 2, Wednesday March 17th 2010, Time 12.00, IDR 15.000
-----------------------------------------------------------------------------------------------

Well, Minggu ini adalah puncak tentang apa yang tidak kupercaya untuk datang dan kemudian berlalu. pada awalnya hanya berniat untuk liburan sejenak karena nunggu dosen belum ketemu2 hingga satu bulan sekaligus menghindari ancaman penyiksaan yang akan menimpa diri saya karena pada tanggal 16 Maret kemaren atau pas dengan Hari Raya Nyepi bagi yang beragama Hindu, hari itu adalah hari Ulang Tahunku. jadi hari kamis kemaren saya sudah buru2 kabur pulang kampung daripada dijadiin tontonan gratis masyarakat Jawa 2 kan malu, btw berbicara tentang umur bolehlah angka umur kita bertambah namun perlu diingat pula disaat yang bersamaan usia dan jatah hidup kita akan selalu makin berkurang. meski pada minggu ini adalah minggu pailing kelam sepanjang tahun 2010, namun kok kumalah cuma tersenyum aja ya? entahlah yang jelas ada kejanggalan dalam hati saya bercampur aduk tapi setelah diolah menjadi bahan senyuman dan pelajaran menarik bagi saya pribadi. okelah kalo begitu (katanya The Warteg Band), hampir semua rencana ulang tahunku batal namun biar nggak ancur-ancur banget maka tadi siang nyoba nonton film di bioskop siapa tau bisa menjadi hiburan di hari ultah yang kelam ini. dari sekian judul yang nangkring di bioskop, saya memilih Confucius. kandidat kuat selain film ini adalah The Wolfman, namun kok kayaknya lebih keren Confucius ya? akhirnya saya memutuskan untuk nonton film yang dibintangi Cow Yun Fat ini.


Cast : Chow Yun Fat, Xun Zhou, Yi Lu, Jianbin Chen, Yu Lao, Kaili Zhang, Quan Ren, Huang Jiao, Ban Wang.
Director : Mei Hu
Release Date : 28 January 2010 (China)
Genre : Biography/Drama
Run Time : 130 Menit
Distributors : Beijing Dady Century Limited

Cerita film ini menitik beratkan tentang sepak terjang Kong Qiu (Fat)  pada tahun 551 SM yang pada awalnya hanyalah seorang miskin di kerajaan Lu, kemudian karena pendidikannya Kong atau yang kini kita kenal dengan Kong Fu Cu dia diankat menjadi menteri Hukum dan kemudian diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri. namun semakin naiknya pangkat Kong, Jendral Ji melihat ini sebagai ancaman untuk kelangsungan kerajaan Lu meski pada awalnya Kong berhasil menguasai 3 wilayah. dan kemudian Kong beserta murid kesayangannya merantau dari negeri satu kenegeri lainnya untuk menyebarkan paham konfusianisme, dan kemudian kembali ke kerajaan Lu untuk mengajarkan paham tentang filsafat sosial berkaitan dengan etika dan kesopanan keseluruh masyarakat.


Btw, dengan durasi yang lumayan panjang film ini pun berjalan begitu lambat. bisa dimaklumi memang, meski terbukti film ini sukses dijauhi penonton karena tadi pas nonton jumlah penonton untuk film ini hanya sekitar 10 orang saja (prihatin mode on). untuk urusan teknis, saya kok agak kurang begitu sreg dengan alurnya. yang lumayan bagus adalah petuah2nya serta ketulusan Kong dalam mengajarkan ilmunya kepada orang lain beserta murid2 setianya yang rela berkorban demi gurunya ini, selain itu akting Cow Yun Fat disini sangat baik. yang bikin penasaran adalah pemeran ratu Wei yang cantik banget (serius, dia cantik banget di film ini). selain akting, visualisasi film ini terlalu kusam layaknya film mongol serta dengan special effect yang tanggung dan sangat terlihat banget bohongannya.

Finally, film ini bagi saya kurang menghibur karena sejatinya memang bertujuan memberikan pemahaman bagi penontonnya. yang menghibur pas nonton film adalah pasangan pacaran muda-mudi disebelah saya yang mulai bercinta sejak film dimulai. btw, pada akhirnya seberapa pun luka yang masih terasa perih ini, hidup harus tetap berlanjut dan biarlah menjadi sejarah yang tak perlu dihapus namun sebagai tamparan supaya kedepan kita menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya, well moment yang pas dengan ultah kali ini. dan semoga sukses..

Catatan Nonton Bulan February 2010


Well, setelah dibulan January libur nyambangin Bioskop, di bulan february ini gue sukses melahap beberapa film yaitu From Paris With Love, Edge Of Darkness dan yang terakhir adalah My Name Is Khan yang sekaligus sebagai film Bollywood pertama yang gue liat dibioskop. juara tetap kusematkan kepada film terakhir yang dibintangi oleh Shah Rukh Khan tersebut. namun yang sangat disayangkan adalah belum sempatnya gue untuk nonton film Legion, The Wolfman, Valentine's Day, dan Percy Jackson And The Olympians : The Lightning Thief. Legion memang kurang begitu dinanti akibat masih terbayang oleh film Constantine yang ber-tone senada, Valentine's Day terlupakan karena memang sedang jomblo, khusus Percy Jackson sebenarnya mau nonton tapi beberapa reviewer menilai film ini standard-standard saja jadi saya malah menunggu versi home videonya saja, dan The Wolfman masih sedang diusahakan meski kayaknya sudah agak begitu terlambat. di luar tentang acara nonton, bulan ini Andre Harihandoyo And The Sonic People album Good Song For Your Soul, Mongkey To Millionaire album Lantai Merah, dan Endah N' Resha album Nowhere To Go menjadi teman ngeblog yang saya beli di salah satu toko music dan film di Surabaya Town Square. finally, urusan skripsi belum juga kelar padahal teman seangkatanku sudah mulai hilang satu demi satu, hingga nasib laporan KK pun juga belum selesai. btw, bulan Maret ini daftar film yang harus ditonton makin bertambah banyak diantaranya Alice In Wonderland, Green Zone, dan How To Train Your Dragon, tentang berita mundurnya jadwal rilis film Clash Of The Titans dari semula tanggal 26 Maret menjadi tanggal 2 April karena alasan diformat menjadi 3D memang terasa menyebalkan. secara pribadi saya cuma berpesan kepada pengelola bioskop untuk selalu lebih meng-update film-filmnya, supaya kasus The Book Of Eli dan The Lovely Bones yang hingga hari ini belum ditayangkan tidak terulang lagi, namun untuk beberapa judul lainnya yang bahkan lebih dahulu ketimbang di negera asalnya memang patut diacungi jempol..

Movie Review : Zombieland [2009]


Review : Sebelum film ini beredar, perlu diketahui film bertemakan zombie adalah genre horror yang nggak begitu saya suka karena alasan nggak etis yaitu sangat menjijikkan dan bikin kepala pusing. Perlu diketahui pula, selain tempat tinggi gue secara pribadi juga paling nggak kuat ngeliat darah yang berasal dari luka, baik luka bacok atau pun luka karena kecelakaan bahkan tahun kemaren gue pingsan gara-gara ngeliat kambing disembelih pas Hari Raya Kurban. Bayangkan si mayat hidup beraksi memakan manusia dengan belepotan darah busuk dimana-mana, beh insyallah bikin saya cepet teler. Contoh gila genre ini yang masuk kategori bagus adalah Dawn Of The Dead, Night Living Dead, Diary Of The Dead, Quarantine, dan 28 Weeks Later serta segmen Planet Terror dalam film Grindhouse. Bila dibandingkan dengan tema horror lain, Zombie merupakan alternatif lain dan mungkin menempati urutan terakhir setelah genre gory atau psikopat dalam daftar film-film yang saya suka.

Lalu datanglah film ini dengan kemasan aneh bin nyelenneh, awalnya sih udah enek ngliat posternya yang sekilas macam film Zombie standard dengan imbuhan Science-Fiction, tapi kupaksakan nonton daripada belongok nggak ada kerjaan lagi. Busyet hehe film ini dikemas dengan bumbu tema yang sedikit longor, nggak cengengesan alias lumayan berkelas dan seru. Ada beberapa adegan yang bikin saya tertawa lepas terutama tentang 32 aturan hidup di dunia yang udah penuh dengan Zombie alias mayat hidup pemakan daging, semuanya disajikan dengan sangat fresh, lucu dan tidak menggurui, salut dengan pembuat naskah filmnya.

Btw, genre yang awalnya emoh gw liat ini akhirnya sedikit-demi-sedikit mulai hilang dari peredaran apalagi temenku tadi malem bawa bajakan film Zombie Stripper, sebuah film zombie bodoh tapi sepertinya sangat disukai oleh kaum lelaki :D

Movie Review : Sherlock Holmes [2009]

 
Review Film Sherlock Holmes.

ROYAL21, Date Wednesday 30 December 2009, Studio 2, Row B-8, Time 14.25 WIB, Rp15.000;
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hahai, untuk kedua kalinya gw liat film dihari pertama pemutarannya di bioskop.

hmm.. Sungguh nikmat banget

Sherlock Holmes, itulah judul film yang gw tonton tadi sore

Date (30/12/09)

HTM 15.000;00

Film ini memang merupakan salah satu film yang gw tunggu2 di akhir tahun 2009 selain Avatar, Sang Pemimpi, dan Lovely Bones (tapi kayaknya Lovely Bones diundur January 2010, deh). Ah, whatever-lah yang penting kita nikmatin aja akhir tahun ini dengan sesuatu yang menyenangkan, salah satunya dengan nonton film (yang memang hobi gw) setuju?

Well ceritanya tentang detektif yang bernama sesuai judulnya yaitu Sherlock Holmes (Robert Downey Jr.) dan mitra setianya Watson (Jude Law), berdua mereka merupakan detektif hebat dan mahsyur di kerajaan inggris dalam memecahkan berbagai kasus mulai dari yang kacangan sampe tingkat keamanan nasional. Dan kali ini si Holmes menghadapi Lord Blackwood (Mark Strong) yang enemy nomer wahid kerajaan inggris sekaligus anak salah pejabat penting pemerintahan Inggris. Selanjutnya adegan2 film ini diceritakan di luar nalar Sherlock Holmes yaitu menegani sihir, magic, dan supranatural. salah satu contohnya tentang raibnya mayat Lord Blackwood dan kemudian bangkit dari kuburnya. Baidewey, Cerita film yang bersetting abad pertengahan (tahun 1800) ini disutradarai oleh Guy Richtie (Lock, Stock, and Smooking Barrel, Snacth, dan Rock’n Rolla) sutradara paling gue suka gara2 film2nya selalu menampilkan gaya yang unik dan khas (begitupun film ini).

Eniwey, film rekaan dari novel karangan Sir Arthur Conan Doyle ini sudah pernah di buat sebelumnya, bahkan menurut kabar film yang mengedepankan tokoh Sherlock Holmes udah pernah di filmkan sebanyak +100 kali dengan +70 aktor, wuidih busyetnya gila nih tokoh terkenal amat. Serial manga Detective Conan pun juga terinspirasi dari tokoh Sherlock ini.

Bahkan Robert Downey Jr. dinominasikan di beberapa ajang penghargaan bergengsi lewat perannya difilm ini lho

Cara memecahkan masalahnya memang mirip sekali dengan serial Detective Conan

Bagi yang suka film dengan imbuhan teka-teki dengan alur nyantai dan nggak begitu nguras otak, malah bisa dibilang genre film ini adalah Action-Biography-Comedy, bahkan beberapa adegan banyak mengundang tawa penonton. Nggak nyangka juga special effect film ini meski dikit tapi oke punya dan porsinya pas, bahkan bagi gw filmnya bagus banget karena gw sedari dulu emang suka dengan gaya penyutradaraan Guy Ricthie selain cerita dan akting pemainnya yang memang jempolan, terutama pas menangani Snatch dulu. Adegan2nya memang khas, salah satunya adalah adegan slow motion, tinju bebas, dan gaya bicara tokoh2nya yang kadang terlihat nyeleneh tapi membuat kita tersenyum tipis.

Penghujung tahun yang sempurna :)

Finally, sekali lagi gw ucapin selamat tahun baru 2010 bagi yang merayakannya..



Movie Review : Sang Pemimpi (2009)

 

ROYAL21, Date Wednesday 30 December 2009, Studio 4, Row B-9, Time 14.30 WIB, Rp15.000;
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sang Pemimpi
Wah, nonton juga gw ama film ini :D
Pengen liat hari pertama pemutaran sih, tapi karena kemaren duit menipis gara2 buat nonton tridi (3D) film Avatar dan kosn belom bayar, yah musti pngiritan nih.

Gw liatny alone alias sendirian bin nggak ada temennya. Abis, temen2 pada liburan semua tuh ke kampung masing2 (yang rumahnya kampoeng) but nevermind-lah karena terkadang nonton sendirian itu membuat kita lebih khusyuk nikmatin filmnya (pembelaan :P).

Baidhewei, (secara) nih film ceritanya ngelanjutin cerita dari film Laskar Pelangi. Tapi kali ini mereka bukan lagi bocah ingusan kayak di film Laskar pelangi itu, melainkan udah remaja. Jadi jangan kaged (atw malah tambah disukai) kalo adegan ngejar2 cewek bin pacaran khas remaja SMA lumayan banyak disini, cuman jangan khawatir pesan2 mendidiknya juga banyak lho.. terutama tentang perjuangan dan tantangan dalam mengejar mimpi.

Sekali lagi, Riri Riza (Gie, 3 Hari Untuk Selamanya, dan Laskar Pelangi) telah melakukan tugas dengan baik dalam membuat sebuah sajian film (Sang Pemimpi) yang dipenuhi vitamin yang sangad bergizi dan juga komersil (terbukti selalu box office) ini. Karena (kata pembaca novel) meski nggak sama dengan novelnya, namun apapun yang dirubah (atau ditambah) oleh Riri Riza tetep merupakan sebuah perubahan positif yang diamini oleh sebagian besar penonton dan pembaca novelnya. Bahkan (katanya lagi) pemilihan Ariel “Peterpan” pun juga bukan asal nyomot-aktor-tanpa-dasar-yang-kuat-di pinggir jalan, diangkot, diterminal, apalagi di pasar tradisional (hehehe), jadi semuanya udah diperhitungkan secara mateng2.

Eniwey, karena gw nggak pernah mbaca novelnya sama sekali jadi bagi gw film ini sangat bagus banged. Jauh lebih baik dari Laskar Pelangi, karakter2nya unik, akting pemainnya natural, dan pun juga terselip beberapa adegan humor yang membuat kita (minimal) tersenyum, terlebih soundtrack-nya asli bener2 jempolan. Selain Avatar yang gw tonton minggu lalu, film Sang Pemimpi adalah sajian yang sangat pas sebagai peserta pesta film2 penutup tahun 2009, serta terasa sangad nikmat bagi gw dan (mungkin) penikmat film lainnya. Jadi nggak sabar nih pengen nonton film lanjutannya, kapan ya?

Well, CD Soundtrack-nya gw udah punya dan filmnya udah gw tonton di bioskop. Ah, tinggal ngoleksi poster dan DVD-nya kelak :D


Movie Review : Avatar [3D]

“...Enter The World Of Blue Film...”

SUTOS XXI, Studio 3, Row A-11, Date 17 Desember 2009, Time 12.15WIB, Rp 25.000;
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Review : Sama persis dengan acara film tengah tahun yang diramaikan berbagai film Box Office mulai dari X-MEN ORIGINS : WOLVERINE yang kemudian ditutup dengan film G.I.JOE : THE RISE OF COBRA agustus yang lalu, akhir tahun juga biasanya selalu diramaikan dengan film2 berbudget raksasa yang siap menghibur seluruh penonton seantero Bumi. Begitu pula dengan proyek AVATAR yang juga merupakan film yang masuk kategori “Most anticipated of the year”. Di luar itu, akhirnya tugas kelompokQ di bangku kuliah kelar juga, dan bener2 sukses menguras tenaga dan pikiranQ hehe. Well dari pada larut dalam stress gw cabut aja ke bioskop untuk liat film AVATAR [3D], jujur ni pertama gw nonton film di hari pertama pemutaran alias Premiere wah ternyata rame banget ya.

Aniwey mumpung AVATAR [3D] pas hari kamis kemaren awal pemutarannya ya gw nggak nyia2kan donk, dan gw udah nyiapin duit menanti film ini, hmm akhirnya 25 rebu habis juga. Gw nontonnya di Sutos XXI, satu2nya bioskop yg katanya paling keren, paling mahal, dan paling lengkap serta satu2nya bioskop di Jatim yg ada 3D-nya.

Awalnya gw pengen liat film SANG PEMIMPI (yg juga lagi premiere hari kamis kemaren [17/12/09]) tapi gara2 duit kurang ujung2nya ya batal juga, mungkin minggu depan aja wez sekalian liat film SHERLOCK HOLMES (Film Detektif keren dengan sutradara paporit gw/Guy Ricthie). Back to AVATAR, secara cerita film ini lumayan ringan (tapi malah karena itu gw suka banget) meski masih belum bisa di kategorikan cetek. Secara garis besar (gw bilang gitu karena gw liat yg 3D yg otomatis filmnya nggak ada substitle Indonesia sama sekali dan parahnya gw nggak begitu lancar bahasa inggris apalagi mahir) film ini bercerita tentang Jake Sully (Sam Worthington), mantan angkatan laut Amerika yang cacat akibat perang, jadi dia terpilih untuk berpartisipasi dalam program yang bernama AVATAR. Jack menuju ke PANDORA, sebuah hutan di sebuah planet yg jujur sampe membuat gw bengong-dan-takjub-luar-biasa karena keindahannya. Namun PANDORA juga menyimpan jutaan misteri salah satunya adalah suku Na’vi, makhluk yang mirip manusia dengan kehidupan primitif. Nah, si Jake ini di ubah menjadi suku Na’vi untuk mempelajari keadaan planet ini dan kemungkinan pemanfaatannya.
Di PANDORA, dengan tubuh AVATAR, Jake dapat berjalan kembali. Di hutan PANDORA, Jake melihat banyak keindahan dan bahaya. Ia juga bertemu dengan wanita muda Na’vi bernama Neytiri (Zoe SaldaƱa). Jake berbaur dengan suku Na’vi dan jatuh cinta kepada Neytiri. Saat PANDORA di rusak/di ekploitasi oleh manusia, dan suku Na’vi memerintahkan untuk melindungi rumahnya, Jake terjepit antara tujuannya dikirim oleh militer ke PANDORA dan suku Na’vi, memaksanya untuk memihak pada satu pilihan yang akan menentukan nasib bumi dan suku Na’vi.


Well, pertama kali menikmati sensasi 3D apalagi untuk film sebesar AVATAR bener2 nggak mengcewakan sama sekali, gambarnya bener2 hidup dan system suaranya (dolby digital khusus 3D) bener2 menggelegar. Dari sektor akting, mas Sam kayaknya kebanyakan tersenyum ya di film ini, malah yg paling keren tu mbak Zoe, tapi chermistry keduanya bener2 manted-jaya-makmur-sentosa coy. Yang gw suka dari film ini lagi2 adalah dari sektor Special Effect yg bener2 belum pernah ada sebelumnya, kini lupakan Film KINGKONG, TRANSFORMERS, LORD OF THE RING, apalagi 2012 yang masih keliatan bo’onganny, bakalan kalah jauh deh. Di film ini kita bener2 nggak bisa mbedain yg Special Effect dan bukan! Bener2 menghibur, spektakuler, dan canggih total. karena ini merupakan proyek raksasa impian sutradara ambisius plus perfeksionis Om James Cameron, seperti yang kita tau sang sutradara adalah orang di balik suksesnya ALIEN, TITANIC yang dahsyat nan memilukan itu, THE ABYSS yang spektakuler (untuk jamannya), serta TERMINATOR 2 yang keren abis itu. tentu proyek AVATAR ini merupakan mahakarya yang layak di tunggu karena proyek film yang dah digarap sejak TITANIC tayang ini nggak akan sanggup ditandingi (SPECIAL EFFECTnya) bahkan hingga 5 tahun kedepan dan pantas di sebut sebagai makanan penutup paling nikmat tahun ini!, jadi Duit 25 ribu gw ikhlas habis gara2 hanya buat liat film ini!

Kelebihan film ini adalah instrument (Score) dan rekyasa suaranya bener2 keren ditambah suasana hutan dan isinya Yang-Bener2-Super-Sangat-Indah-Banget (entahlah kata2 apa lagi yg musti gw tambah), OSTnya keren abis (must buy it), adegan actionnya nomer wahid (terutama adegan pertempuran antara Manusia [sebagian memakai Robot] dengan Bangsa Na’vi), plus Special Effectnya yang nggak bosen2nya gw puji. gila pokoknya film ini, mending kalian liat di bioskop aja (rekomendasi yang 3D) soalnya bila lewat versi Pirate-nya bakalan "Nggak Dapet" sensasinya!
Cast :


Sam Worthington as Jack Sully


Zoe Saldana as Neytiri


Sigourney Weaver as Dr. Grace Augustine


Stephen Lang as Colonel Miles Quaritch


Joel Moore as Norm Spellman


Giofani Ribisi as Parker Selfridge


Michelle Rodriguez as Trudy Chacon


Laz Alonso as Tsu'tey


Wes Studi as Eytukan


CCH Pounder as Moat


Dileep Rao as Dr. Max Patel




Director : James Cameron
Avatar Movie Quote :
Jack Sully : [to Tsu'tey] With your permission, I will speak now. You would honor me by translating.
[to the assembled Na'vi]
Jack Sully : The Sky People have sent us a message... that they can take whatever they want. That no one can stop them. Well, we will send them a message. You ride out as fast as the wind can carry you. You tell the other clans to come. Tell them Toruk Makto calls to them! You fly now, with me! My brothers! Sisters! And we will show the Sky People... that they can not take whatever they want! And that this... this is our land!
Avatar Movie Scene Gallery :


Movie Review : Frost/Nixon - DVD (2008)

 border=
Malem minggu kali ini (tadi malem) asli kurang menyenangkan dan nggak sesuai bayangan sebelumnya, ketimbang mati gara2 suntuk mending gw cabut ke rental VCD/DVD langganan aja. Siapa tau ntar nemu film bagus yg belum gw tonton sebelumnya, yup akhirnya dapet juga satu film yg gw maksud tadi judulnya Frost/Nixon (2008). Duh kok film berat yah? Oscar lagi, setelah berpikir 3 kali (1. belum nonton 2. film kelas Oscar 3. nggak ada hiburan lagi sampe tengah malem nanti) akhirnya gw jadi juga bawa pulang film ini dan 5 rebu perak-pun melayang (T.T)
 border=
Bagi yg eneg ngliat berita di tipi dan acara diskusi politik, pasti bakalan (juga) nggak suka ama film ini. Dan yang menjadi dalang atas ruwetnya film ini adalah Ron Howard (sutradara) dan penyusun naskahnya yaitu Peter Morgan, secara singkat filmnya menceritakan tentang seorang wartawan yg ingin kariernya melonjak dan seorang presiden yg lama mengasingkan diri gara2 terlibat dalam skandal Watergate yg terkenal itu, tak lama kemudian Frost (sang wartawan) ingin mewawancarai sang presiden dan presiden pun menyetujui dengan alasan ingin memulihkan citra yang baik supaya dia kembali dipercaya oleh public dan acara talk show pun dimulai, jadi setengah isi film ini hanya menampilkan “Talk Show” dari dua orang yang melakukan Tanya-Jawab di depan televisi yg disiarkan secara langsung. Sekedar tambahan, bagi yg cuek dan tidak-tahu-menahu terhadap kasus Watergate yg menimpa presiden Amerika Richard M Nixon ini pasti bakalan ngantuk karena filmnya hanya berisi obrolan wawancara, namun bagi gw (meski sama2 nggak begitu tau tentang Watergate) film ini mempunyai kekuatan khusus selain kekuatan standard film2 laennya. Yup di film ini kata memang bener2 setajam silet, karena jujur endingnya benar2 mengejutkan (spoiler, ne hehe) tentang bagaimana Frost yg awalnya hanya seorang wartawan dan pembawa acara tipi kacangan bisa “membunuh” sang penguasa paman sam yg sebelumnya mengasingkan diri karena terkait dalam beberapa kasus.

Kehandalan film ini adalah naskahnya yg jempolan, aktingnya yg kuat yg bahkan ketika kita menyaksikan keduanya (Frost dan Nixon) pada sesi perbincangan-talk show-di televisi kita seakan2 benar2 menyaksikan Frost dan Nixon yang asli, serta sang sutradara yang bertanggungjawab atas kerennya film ini. Ah, ternyata duit 5 rebu gw nggak kebuang sia2 :) :)
Related Posts with Thumbnails
top