Showing posts with label Movie Quote. Show all posts
Showing posts with label Movie Quote. Show all posts

Movie Review : The Lovely Bones [2009]

Nah hasrat nonton film Lovely Bones sedari dulu akhirnya sukses juga, puas rasanya mengingat saya selalu mengagumi semua karya Peter Jackson sebelum film ini.
 .
Poster Film The Lovely Bones
.
Resolusi yang ingin diwujudkan oleh Sutradara yang kerap memakai teknology digital dalam setiap karyanya ini mungkin direspon kurang positif oleh penggemarnya, nama besar Lord Of The Ring dan Kingkong jelas menjadi batu sandungan yang akan selalu menghantui segala aspek kemungkinan terburuk dari drama adaptasi karangan Alice Sebolt ini. okelah Kingkong kita singkirkan terlebih dahulu meski film monyek raksasa tersebut masih sangat megah kecuali naskahnya yang berada pada level aman, adaptasi sebelumnya sungguh merupakan mahakarya yang terus terang berbeda level bila harus disandigkan dengan film Lovely Bones ini. namun usaha keras itu bukannya tidak ada, kisah tentang Sussie yang kental dengan aroma drama pembunuhan ini diterjemahkan dengan sangat baik, padaahal secara cerita sebenarnya agak sederhana. point possitif karya Peter Jackson ini [juga dalam versi Kingkong] terletak pada visualisasi mewah tiap scene yang dibangun sesuai suasana hati pemainnya.

 .
Pemain : Mark Wahlberg, Susan Sarandon, Rachel Weisz, Stanley Tucci, Saouirse Ronan, Michael Imperioli, Jake Abel, Amanda Michalka.
Sutradara : Peter Jackson
Naskah : Fran Walsh dan Philippa Boyens
Tanggal Rilis : 7 April 2010 [Indonesia]
Durasi : 136 Menit
Jenis : Drama, Fantasy, Thriller
Tagline : The Story Of A Life And Everithing That Came After
Distributor : Dreamwork SKG
.
Sinopsis : Susie Salmon (Saoirse Ronan) sebenarnya hanya ingin mencari jalan paling singkat menuju rumahnya saat pulang sekolah. Celakanya ide sederhana ini berubah menjadi malapetaka ketika ia bertemu George Harvey (Stanley Tucci), tetangga Susie yang ternyata adalah seorang psikopat. Sayang semuanya sudah terlambat. George lantas memperkosa Susie dan menghabisi gadis belia ini. George kemudian memotong-motong tubuh Susie dan membuangnya di sebuah lubang di tempat yang terpencil. Tubuh Susie tak pernah ditemukan kecuali sepotong tangan yang tercecer saat George membuang tubuh Susie. Pasca kematian Susie ini, keluarga Susie mulai didera perasaan bersalah. Perlahan keluarga yang semula harmonis ini mulai terpecah belah. Jack (Mark Wahlberg), ayah Susie mulai sering mengurung diri sementara Abigail (Rachel Weisz), ibu Susie mulai dekat dengan detektif Len Fenerman (Michael Imperioli) yang menyelidiki kasus kematian Susie. Pada saat petunjuk mengenai kematian Susie mulai terungkap, George Harvey telah lama menghilang sementara keluarga mendiang Susie pun sudah terpecah-belah.
.
Review : Tidak ada yang keliru memang bila Peter mengangkat tema Drama, namun jujur bukan disinilah bidang Peter. meski baik LOTR maupun Kingkong masih berbau drama, tapi berbeda dengan drama yang diracik disini, film ini serasa kehilangan sentuhan Peter yang megah dan raksasa tanpa ada monster ganas seperti dalam LOTR dan tidak ada dinosaurus ngamuk seperti dalam Kingkong, jelas pilihan bangting setir ini bagi saya hanyalah uji coba dari Peter Jackson saja dengan bermain-main diluar kebiasaannya. akting pemainnya lantas hanya mengandalkan sussie seorang, Mark Walhberg tidak berkembang meski dibeberapa bagian terlihat menonjol. Susan Sarandon dan Rachel Weisz bermain baik namun masih berada dibawah film-film yang pernah membuatnya tenar sebelumnya, Stanley Tucci malah terlihat paling mempunyai greget dengan sifatnya yang misterius namun ternyata psikopat dan pelaku pelecehan seksual. Overall, mungkin meski hal ini tidak akan dipertahankan oleh Peter [semoga saja demikian] hemat saya, sebaiknya Peter menjauhi tema drama "sederhana" seperti ini. meski tetap karya yang satu ini tidak boleh dilewatkan begitu saja, namun gebrakan selanjutnya setidaknya jangan kemabli bermain-main dengan genre drama yang terbukti tidak laris dipasaran ini. Peter mungkin sudah kapok, dan hebatnya proyek Tintin dan The Hobbit bersama Steven Spielberg dan Guillermo Del Toro akan menandai kembalinya sang sutradara ke jalan yang benar yaitu fantasy.

Movie Review : How To Train Your Dragon 3D - (2010)

SUTOS XXI, Row, Studio, 22 Maret 2010, Runtime, Rp 25.000
Mencuri kesempatan buat nonton film ditengah himpitan acara dikampus ternyata susah juga, apalagi setelah temen2ku tau kalo aku sering nonton film dibioskop membuat mereka begitu cepet mengendus keberadaanku. How To Train Your Dragon 3D, itulah judul yang sukses kulahap tadi siank. well film yang dibuat oleh perusahaan film animasi keren saingan Pixar yaitu Dreamwork tahun ini mnegeluarkan 3 judul untuk awal tahun adalah How To Train Your Dragon, Shrek Forever After untuk tengah atau musim panas, dan Megamind untuk show akhir tahun 2010. bagi saya pribadi susah untuk memihak studio ini sebagai barometer film animasi bermutu meski Madagascar dan Kungfu Panda sukses menarik perhatian, apalagi serial Shrek yang tahun ini merupakan seri yang keempat kalinya. berbicara dua studio diatas, Pixar rasa2nya masih nomer satu menurut selera pribadi saya. sedangkan Dreamwork sejatinya hanya bertujuan menghibur dengan pamer aktor/aktris terkenal sebagai dagangannya, jadi naskah kebanyakan bagi mereka adalah prioritas nomer sekian. begitupun dengan film ini, dibuat sangat menghibur layaknya Kungfu Panda yang menggemeskan. tapi jangan salah, meski film ini sangat menghibur film ini juga tidak lantas membiarkan naskahnya terhanyut oleh visualisasinya yang memanjakan mata, karena kali ini Dreamwork mulai sadar bahwa naskah juga sangat penting untuk memajukan sebuah film kearah yang lebih baik.

Sinopsis : How To Train Your Dragon memusatkan cerita tentang mitos dunia Viking dan naga. Berkisah seorang pemuda Viking bernama Hiccup (Jay Baruchel), hidup di pulau Berk, dimana melawan naga adalah cara untuk bertahan hidup. Pemuda pintar dan humoris ini diragukan kemampuannya oleh kepala sukunya sekaligus ayahnya, Stoick the Vast (Gerard Butler). Meskipun demikian, saat Hiccup diikutsertakan dalam pelatihan melawan naga bersama pemuda lainnya, ia dapat membuktikan bahwa ia siap menjadi seorang petarung. Setelah ia berhasil menaklukkan seekor naga dengan meriam batu, Hiccup akhirnya berkawan dengan naga yang paling ganas dan ia beri nama Toothless (Tak Bergigi). Pertemanan ini membuanya tersadar bahwa warga Berk tidak membutuhkan pemburu-naga


Cast : Jay Baruchel, America Ferrera, Jonah Hill, Gerard Butler, Christopher Mintz-Plasse, Craig Ferguson 
Director : Chris Sanders dan Dean Deblois
Screenplay : Adam F. Goldberg, Peter Tolan, dan Dean Deblois
Produser : Bonnie Arnold, Michael Connolly, dan Tim Johnson
Release Date : 20 Maret 2010 (Indonesia)
Distributors : Paramount Pictures
Run Time : 98 Menit
Genre : Animasi

Seolah-olah termakan trend perfilman Hollywood belakangan ini, film How To Train Your Dragon juga memakai teknology 3D untuk Bioskop 3D, RealD, dan IMAX 3D. hebatnya lagi, khusus film ini adalah untuk pertama kalinya sebuah film 3D disediain subtitle indonesia untuk memudahkan mengikuti jalan cerita filmnya terutama anak kecil yang memang target penontonnya. sebuah langkah positif yang layak diapresiasi lebih mengingat tidak semua penonton indonesia paham dengan sangat dalam berbahasa inggris terutama bagian listening. balik ke cerita filmnya, bagi saya film ini sangat lah mengejutkan untuk ukuran Dreamwork. bagaimana tidak, sebelum film ini dirilis bagi saya Dreamwork akhir2 ini sudah seperti kehabisan ide meski tiap tahun mereka mampu menelurkan 2-3 film secara kontinyu, namun terbaik dari seri Dreamwork tetaplah Kungfu Panda dan Madagascar yang lucu namun mempunyai nilai jual yang tidak bisa dianggap remeh meski tetap Pixar-lah juara akhirnya. kemudian film ini datang di waktu yang tepat, filmnya sangat menghibur bagi saya, karakter2nya hidup, dan visualisasinya keren terutama adegan2 khas 3D-nya yang memanjakan mata, serta eksekusi menjelang endingnya yang semakin menguatkan bahwa naskahnya kali ini memang tidak dibuat asal jadi.

How To Train Your Dragon Movie Trailers



Memorable Quote
Hiccup : Everything we know about them is wrong.
Sepertinya film ini pun merupakan film terbaik kedua yang dibintangi oleh Gerard Butler setelah 300 tahun 2007 silam, meski kali ini dia hanya meminjamkan suaranya saja.demikian pula dengan jay Baruchel yang meski terdengar asing namun suaranya pas disini, sementarayang lainnya masih tetap prima meski tetap semua penilaian terkonsentrasi kepada dua tokoh diatas. untuk sebuah tontonan dari Dreamwork, inilah karya paling baik dari studio yang juga pernah sukses membuat Kungfu Panda ini. kualitas naskah yang bagus dengan tambahan twist diakhir, pemain yang kuat, dan adegan yang seru dan mendebarkan serta tanpa menghlangkan peran utama sebagai tontonan anak-anak yang jenaka, serta effect 3D-nya menjadi tayangan paling top ditahun 2010 yang sudah berjalan 3 bulan ini.

Well, film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton dibioskop terutama bioskop 3D. tenang, bagi yang kurang paham bahasa inggris film ini sudah menyediakan teks subtitle Indonesia kok jadi akan menajdi lebih mudah dipahami oleh semua penonton.

Movie Scene Selection

Well, akhirnya pergelaran oscar kelar juga. banyak yang unpredictable ada pula yang sudah dirasa pasti menang, dari pada pusing mikirin tebak2an yang ternyata keliru maka nggak ada salahnya untuk nonton film yang sekiranya tidak terlalu membuat pusing kepala karena sangking ruwetnya jalan cerita seputar oscar dan film-film yang dilombakan. film-film berat seperti Up In The Air, Invictus, dan lain-lain mungkin memang berkualitas tinggi, namun tidak dapat dipungkiri pula bahwa film adalah seni yang dapat menghibur penontonnya. jadi biar nggak tambah mumet, film seperti itu untuk sementara waktu kutingglkan dimeja. btw dipilihlah film ini, sebuah film tentang mitology yunani yang anehnya digabungkan dengan sensasi modern ala Amerika. kalo boleh menilai awal sih film kayak beginian biasanya pol-polannya paling cuma dari segi special effect, namun khusus film ini pun oscar tak kunjung datang untuk memeberinya sebuah nominasi yang dimaksud dengan alasan bahwa pendaftaran sudah ditutup :D eniwey, saya sebelumnya kurang begitu paham tentang sejarah mitology yunani selain yang sudah populer semacam Medusa, Zeus, dan Hercules. namun akhirnya krisis pengetahuan tersebut hilang karena penjelasan temenku bernama Dany yang menjelaskan secara singkat namun singkat tentang sejarah tersebut, dan bahkan sampai perbedaan dengan beberapa sejarah yang mirip dengannya.

Cast : Logan Lerman, Brandon T. Jackson, Alexandra Daddario, Jake Abel, Sean Bean, Pierce Brosnan, Steve Coogan, Rosario Dawson, melina Kanakaredes, Catherine Keener, Kevin McKidd, Joe Pantoliano, Uma Thurman.
Director : Chris Colombus
Screenplay : Craig Titley (Screenplay) Rick Riordan (Novel)
Release Date : 10 February 2010 (Indonesia)
Run Time : 118 Menit
Distributors : Fox 2000 Pictures


The Review : sebelum berbicara tentang isi kandungan vitamin beserta racun dalam filmnya, marilah sejenak kuceritakan dulu kisahnya. btw Percy (Logan Lerman) yang sebelumnya adalah bocah sekolahan ternyata adalah salah satu anak dewa yunani yaitu Poseidon (kevin McKidd), well diapun dituduh mencuri senjata paling mahsyur yang pernah ada yang dibuat oleh Zeus (Sean Bean). jelaslah Percy bukan pencurinya, namun mau tidak mau harus berjuang bersama pelindungnya Grover dan anak dewi Athena yaitu Annabeth karena selain mengembalikan nama baiknya, dia juga harus menyelamatkan ibunya yang dicuri oleh Hades (Steve Coogan). eniwey, setelah selesai menceritakan plotnya saya ingin bercerita tentang pendapat saya untuk film ini. secara umum film ini menyenangkan untuk seukuran bocah SMP namun sangat menyakitkan untuk dicerna oleh orang dewasa, ceritanya berjalan datar dan monoton serta terlalu menggampangkan sesuatu. dimuali dari alasan para dewa beserta anaknya dan para penghuni makhluk ajaibnya memakai seragam Romawi, berlatih pedang-pedagangan hei watdehelisdet??? bukankah mereka dewa yang minimal bisa mengangkat batu hingga menagwang-awang diangkasa? apalagi Percy juga berasal dari dunia modern yang mahir bermain teknology canggih ya minmal bisa menggunakan senjata semisal bom-lah. dari inti cerita tentang curi-mencuri senjata kenapa Zeus begitu mudahnya memfitnah Percy yang masih anak ingusan? bukankah Zeus adalah dewa paling keren se-yunani yang minimal bisa nerawang siapa yang nyuri senjatanya, apalgi yg dicuri adalah miliknya sendiri yang biasanya terdapat hal-hal yang mudah dideteksi olehnya. acara jumpa pers antara Zeus dan Poseidon yang dilakukan sangat nggak masuk akal, karena kalo cuma mau bertemu dan cangkrukan ngobrolin tentang dunia kan bisa bertemu langsung di Olympus dari pada di pelabuhan. btw ternyata akses untuk masuk ke dunia para dewa yunani bukan di negara Yunani, melainkan di empire state building dan los angeles. parahnya itu di Amerika, okelah kalo begitu (dengan logat The Warteg Band, hehe) well, menurut kabar katanya karakter Percy seharusnya berumur 11 tahun eh malah disini berumur 17 tahun?? finally, banyak hal mengganggu memang namun film juga bukan tanpa kelebihan. yaitu sebagai hiburan belaka, nah kalo mau nyari yang serius tentang mitology yunani maka Clash Of The Titans yang dirilis tanggal 2 April depan haruslah ditunggu kedatangannya. i can wait..

Memorable Quote :
Chiron: Use this to defend yourself. It's a powerful weapon.
Percy Jackson: This is a pen.
Chiron: Only use it in times of severe distress.
Percy Jackson: This is a pen.
Score :
Cerita : 5/10 - Akting : 6/10 - Ending : 5/10 - Total : 6/10


Movie Scene Gallery :


"Legenda Pertempuran Antara Bawang Merah Dan Bawang Putih Di Negeri Dongeng Yang Indah Dan Nyentrik"

SUTOS XXI, Row A-9, Studio 6, Date 04 Maret 2010, Time 12.15 WIB, Rp 25.000
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Alice In Wonderland Review : Seperti biasa di bulan Maret ini mulai banyak film yang berkualitas atau minimal menghibur datang sebagai pemanasan menjelang pesta film musim panas tahun 2010 yang akan digelar bulan Mei depan, judul yang populer datang mulai dari Alice In Wonderland baik untuk 2D, 3D, RealD, dan IMAX 3D, Green Zone, Clash Of The Titans yang juga memakai 2 format (2D dan 3D), How To Train Your Dragon (2D/3D/RealD/IMAX3D),  Remember Me, dan Runaway. apalagi ditambah datangnya film Shutter Island yang memang telat masuk bioskop kecuali bioskop di wilayah kota Jakarta, well hari ini salah satu judul yang saya sebutkan diatas sudah dirilis yaitu Alice In Wonderland 3D. Film ini sekaligus film keempat yang saya tonton dibioskop sepanjang tahun 2010 hingga hari ini, sebelumnya ada Edge Of Darkness, From Paris With Love, dan My Name Is Khan minggu lalu. sebelumnya saya pribadi sebagai penggemar film juga ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak bioskop untuk beberapa judul film tertentu dirilis mendahului negara asalnya (Hollywood) karena setau saya film Alice In Wonderland ini di Amerika masih dirlis tanggal 5 Maret 2010, sedangkan Indonesia hari ini (4 Maret 2010) sudah tayang.

Diluar masalah film, duit buat hidup sebagai anak kostn semakin menipis saja. bahkan ini saya saya bela-belain nonton karena faktor penasaran, apalagi perilaku ibu kost beberapa hari ini semakin ganjil dan tidak masuk akal membuat semua penghuni kosn jawa 2/12 nggak betah hingga ada yang mau pindah segala.

membicarakn Alice kurang lengkap pula rasanya bila tidak membicarakan tentang trend booming film berformat 3D semakin menggila saja, untuk tahun ini film Alice In Wonderland menjadi film pertama yang kemudian di susul oleh How To Train Your Dragon dan Clash Of The Titans di bulan april. beberapa film lain bahkan sedang berbondong-bondong mengusung filmnya menjadi tayangan khusus untuk bioskop 3D, RealD, dan IMAX 3D, yang unik adalah beberapa judul seperti Step-Up 3, Saw VII, dan Piranha juga ikut-ikutan memakai format yang mengharuskan penontonnya memakai kacamata khusus ini. jelas hal tersebut merupakan ide yang dangkal meski dengan alasan ingin mengeruk untung lebih mengingat ticket untuk bioskop 3D memang jauh lebih mahal, karena toh 3D tetap memiliki nilai minus yaitu bagi mereka yang belum fasih dalam bahasa inggris wabil khusus listeningnya. 

"You've got a very important date" 

kembali ke Alice, bahagia adalah kata yang tepat untuk menandakan bahwa proyek ini berada pada tangan yang tepat. ya Tim Burton dengan segala keunikannya yang gelap dan nyentrik akan membawa kita ke dunia Wonderland seperti yang telah dia buktikan sebelumnya, dan bahkan film ini seakan-akan merupakan penggabungan dari berbagai film yang pernah dibuat olehnya mulai dari Sleepy Hollow, Nightmare Before Christmas, Copse Bride, Charlie And Chocolate Factory, dan Sweney Todd. lebih menggembirakan lagi adalah lagi-lagi aktor dan aktris langganan Tim ikut tampil disini, yaitu Depp yang merupakan proyek ke tujuhnya bersama Tim, ada pula Helena yang merupakan istri Tim sendiri. jadi wajarlah bila saya berharap banyak terhadap film ini, tentunya teknology 3D juga mengtrol saya untuk bilang bahwa film ini layak dinanti.


Sedikit Sinopsis yang saya ambil dari situs resmi 21cineplex, Alkisah Kingsleigh Alice (Mia), 19 tahun, menghadiri pesta di Victoria Estate London setelah kematian ayahnya tercinta. Disana, tanpa sepengetahuan Alice, sebuah pesta pertunangan telah direncanakan oleh ibu dan saudara perempuannya. Saat seorang pemuda sombong dan membosankan, Hamish Ascot melamar Alice di gazebo dan disaksikan ratusan warga dari berbagai jenis, perhatian Alice justru tertuju pada kelinci berbintik putih yang mengenakan rompi dan arloji saku. Dalam keterkejutan dan kebingungan, ia berlari ke dalam labirin mengikuti si Kelinci Putih, hingga ia terjatuh ke dalam lubang menuju negeri Underland, di mana ia telah mengunjunginya sepuluh tahun yang lalu, tetapi ia tidak mengingatnya tetapi penduduk dari dunia sihir mengingatnya dan merindukannya. Di Wonderland, ia bertemu kembali dengan teman-teman masa kecilku, termasuk Mad Hatter, (Depp) yang memberitahukan Alice bahwa mereka membutuhkan bantuannya menyingkirkan Ratu Merah (Helena), yang telah merebut Wonderland dari adiknya, Ratu Putih (Anna). Alice mulai beraksi tubuhnya mulai membesar dan mengecil dalam petualangan menemukan jati dirnya sekaligus menyelamatkan Wonderland beserta teman-temannya

setelah lama menunggu dan penasaran sekaligus takjub sewaktu nonton trailernya, akhirnya saya nonton juga film ini. saya memang lebih mengutamakan yang 3D karena penasaran dengan adegan-adegan yang ditampilkan dalam trailernya, namun entah karena ekspektasi saya terhadap film ini terlalu besar saya kemudian menilai film ini biasa-biasa saja. untuk ukuran Tim, cerita yang dibangun kurang punya isi yang bergizi apalagi dilengkapi oleh vitamin dan mineral yang cukup untuk bertahan menit demi menit hingga ending kredit kelar. cerita film ini terlalu digampangkan, bahkan adegan perang yang ditunggu-tunggu di sebuah lapangan yang sekilas mirip bidak catur dengan pasukan kartu reminya yang komikal dan seekor naga yang sangat buas ternyata kurang berkesan. mungkin masalah selera sih, sisi subyektifitas berpengaruh disini. kredit khusus untuk effect 3D-nya yang menurut saya tidak begitu tampil baik, bahkan awal film hingga sebelum Alice jatuh ke Wonderland sama sekali tidak memakai tekonology 3D. karena waktu itu saya melepas kacamata dan ternyata layar bioskop jernih, kan kalau ada effect 3D biasanya layar bioskop blur.

Alice In Wonderland Movie Quote :
The Mad Hatter : What a regrettably large head you have. I would very much like to hat it. I use to hat The White Queen, you know. Her head was so small.
The Red Queen : It's tiny. It's a pimple of a head.

The Mad Hatter : There is a place. Like no place on Earth. A land full of wonder, mystery, and danger! Some say to survive it: You need to be as mad as a hatter.
The Mad Hatter : Which luckily I am.

Alice Kingsley : This is impossible.
The Mad Hatter : Only if you believe it is.

The Red Queen : Off with their heads!

untuk urusan teknis, akting Johnny Depp seperti memang nggak perlu diraguka lagi karena sangking seringnya bermain-main di wilayah karakter-karakter nyeleneh semacam kapten Jack Sparrow dalam film Pirates Of The Caribbean. tentu juara akting dipegang oleh Red Queen yang diperankan oleh Helena Bohnam Carter, saya suka dengan tata riasnya yang banyak dibalut oleh CGI. untuk pemeran Alice lumayan baik meski untuk beberapa adegan nampak kurang menguasai akting, dan yang lucu menurut saya datang dari si kembar Tweedlee/Tweedledum dan White Queen, mengapa White Queen? tak lain karena perilakunya yang memang di buat bak orang yang kecanduan balet dengan tangannya yang selalu melayang-layang. finally, film ini memang sangat unggul dibagian effect imajinasi saja bagai Tim membentuk dunia Underland dengan sangat komikal namun indah dan nyata. begitu pula dengan seluruh isi istana Red Queen yang semuanya membentuk hati, bahkan tempat tiang gantungan plus kapak milik sang eksekutornya pun berbentuk hati yang lucu.

Well, Alice In Wonderland adalah penanda film pertama yang saya tonton di bulan Maret ini, tinggal nunggu Green Zone dan How To Train Your Dragon 3D minggu depan.

untuk film ini saran saya, bagi yang tidak begitu menguasai bahasa inggris mending nonton yang 2D saja. karena film ini lumayan banyak dialognya, selain itu effect 3D-nya kurang begitu menohok mata. btw selera pribadi masing-masing orang memang beda jadi tontonlah filmnya dibioskop karena bagi saya film ini bukannya jelek namun semata-mata karena pengharapan saya saja yang terlalu tinggi terhadap film ini.Alice In Wonderland 

Alice In Wonderland Featurette Video

Cast :
Johnny Depp : Mad Hatter
Helena Bohnam Carter : Red Queen
Anna Hathaway : White Queen
Mia Wasikowska : Alice
Crispin Glover : Stayne/Knave Of Heart
Matt Lucas : Tweedledee/Tweedledum
Stephen Fry : Cheshire Cat
Michael Sheen : White Rabbit
Alan Rickman : Blue Caterpillar
Barbara Windsor : Dormouse
Paul Whitehouse : March Hare
Timothy Spall : Bayard
Marton Csokas : Charles Kingsleigh
Tim Pigott-Smith : Lord Ascot

Genre : Adventure, Family, Fantasy,
Director : Tim Burton
Writer :
Linda Woolverton (Screenplay)
Lewis Carroll (Books)
US Release : 5 Maret 2010
Distributors : Walt Disney Pictures
Duration : 108 Menit

Alice In Wonderland Scene Gallery :

Movie Review : My Name Is Khan [2010]


"My Name Is Khan, But I Am Not The Terorist"


SUTOS XXI, Row D-8, Studio-6, Date 15 Feb 2010, Time 12.15-14.55 WIB, Rp 20.000;
------------------------------------------------------------------------------------------------

Review : Hari jum'at Tanggal 12 bulan february tahun 2010 ini sebenarnya terdapat empat film besar dari Hollywood yang dirilis secara serentak di USA dan begitu juga negara kita Indonesia, ada Percy Jackson And The Olympians : The Lightning Thief, Valentine's Day, The Wolfman, dan My Name Is Khan. Kesemuanya adalah film berkualitas dan menghibur. Seperti biasa untuk bulan february, Film romantis yang dulunya dipegang oleh Will Smith dalam film Hitch kini di kuasai Valentine's Day yg juga menggebrak dengan langsung bertengger di puncak Box Office, ada pula film Horror yang sebelumnya di pegang oleh Constantine-nya Keanu Reeve dan remake Friday The 13th-nya Michael Bay yang kini di handle oleh Benicio Del Toro dalam film The Wolfman, dan yang terakhir adalah film Bollywood yang mulai dilirik oleh masyarakat Amerika pasca kemenangan mutlak Slumdog Millionaire tahun lalu yang kini di pegang oleh Shah Rukh Khan dalam film tentang drama pasca 9/11 berjudul My Name Is Khan. namun meski keempat film diatas dirilis serentak ditanah air, pilihan saya tetep jatuh ke film terakhir yaitu My Name Is Khan yang sudah menyihir dan membuat saya jatuh hati sejak pertama kali melihat movie trailernya di sebuah situs khusus trailer.

Eniwey, lewat pilihan nonton film My Name Is Khan inilah gue pertama kalinya dalam sejarah nonton film India di bioskop, seru juga namun yang membuat gue tersenyum sekaligus merasa ilfil adalah kebanyakan yang nonton film ini adalah dari kaum ibu-ibu dan bapak-bapak untuk kategori dewasa apalagi remaja daftarnya makin sedikit, meski bila dihitung gender pria adalah yang terbanyak ketimbang perempuan. tapi whatever-lah, karena untuk sekelas My Name Is Khan bagi saya lebih baik ketimbang lelah ngantri film  nusantara yang kebanyakan berkutat di sekitar komedi vulgar dan horror beraroma seks yang hanya menjual aurat. diluar demografi film Bollywood diatas, kesan saya terhadap film ini adalah banyak diantara penonton (dan mungkin juga dengan saya sendiri) berkaca-kaca setelah keluar dari bioskop pas filmnya sudah bubar, hmm this is Bollywood movie people! he.. nah selain nonton film, gue tadi juga mampir beli CD Audio baru di Disctarra dan sukses membawa pulang CD Endah N' Resha album Nowhere To Go dan Andre Harihandoyo And The Sonic People album Good Song For Your Soul yang memang sudah saya incar beberapa minggu yang lalu sebagai teman saat ngeblog dan nggarap skripsi di kosn.


Balik lagi ke film, My Name Is Khan dimulai saat Rizwan Khan (Shah Rukh Khan), yang diperiksa petugas bandara karena dicurigai sebagai teroris yang diakhiri dengan pernyataan Rizwan atas keinginannya untuk bertemu dengan presiden Amerika Serikat, kemudian cerita beralur mundur saat Rizwan masih kecil (Thanay Chheda) seorang muslim yang mengidap sindrom Asperger, hidup bersama ibu (Zarina Wahab) dan adiknya (Jimmy Shergill) di wilayah Borivali di Mumbai. Saat ia dewasa (Shah Rukh Khan), Rizwan pindah ke San Fransisco dan hidup bersama adik dan iparnya. Selama disana, ia bekerja sebagai sales obat kecantikan di perusahaan milik adiknya yang sudah menikah dengan Haseena (Sonya Jehan) seorang dosen psikologi dan merupakan orang pertama yang merasakan "keanehan" tingkah Rizwan. Rizwan kemudian jatuh cinta kepada Mandira (Kajol) seorang janda, yang beragama hindu sekaligus pengusaha salon yang terkenal. Kemudian mereka menikah dan mengembangkan usaha, namun setelah peristiwa 9/11, Rizwan dan Mandira mulai menghadapi beberapa kesulitan. Dimulai dari sebuah tragedi rasialis yang kemudian membuat mereka berpisah. Ingin kembali memenangkan hati istrinya, Rizwan melewati sejumlah petualangan salah satunya adalah bertemu dengan Mama Jenny (Jennifer Echols) yang beragama kristen di sebuah kota kecil yang damai dan keinginannya untuk bertemu presiden USA berjalan dengan penuh rasialis dan kejam namun kemudian menjadi sorotan oleh sebuah wartawan TV yang berkeinginan untuk mengangkat profilnya hingga mempertemukannya dengan presiden Barack Obama (Christopher B. Duncan). mengenai apa yang ingin di utarakan oleh Rizwan ke Presiden Amerika, mending nonton ke bioskop aja karena hal itu masih mengandung spoiler dan tentu tidak akan saya ungkapkan disini. lagian, film ini masih hangat-hangatnya lho di bioskop.


Setelah sekian banyak film yang bertemakan runtuhnya WTC tahun 2001 lalu salah satunya diwakili oleh United 93 dan WTC, praktis hanya film ini yang memiliki pandangan berbeda bahwa tidak semua orang muslim yang berwajah asia terutama daerah timur tengah itu teroris. seperti pesan ibunya saat peristiwa perang antara islam dan hindu meletus di India yang berbunyi "hanya ada dua macam insan didunia ini, yaitu orang yang melakukan kebaikan dan yang satunya adalah orang yang melakukan kejahatan", dan lewat film ini pula sebuah paradigma tentang konsep teroris, jihad, dan islam yang mengakar di benak setiap warga amerika sedikit-demi-sedikit mulai berubah, namun dengan plot seperti ini film yang sutradarai oleh Karan Johar yang pernah sukses membuat Kuch Kuch Hota Hai ini menjadi sangat sensitif. dan terbukti dengan raihan Box Office-nya untuk sekelas film hollywood sangat memprihatinkan. Namun berhasil mencetak rekor film India dengan opening tertinggi baik waktu diputar di Amerika, Inggris, maupun Jerman.

"Dengan arahan sutradara andal Karan Johar dan musik pengiring yang menggugah oleh Shankar, Ehsaan & Loy, Khan membuat kita mudah meneteskan air mata seraya mengajarkan kita mengenai Islam dan toleransi," surat kabar Times.

Dari sektor teknis, seperti biasa chermistry SRK (Shah Rukh Khan) dan Kajol sangat pas dan merupakan pasangan ideal seperti yang mereka tunjukkan dalam film Kuch Kuch Hota Hai, Kabhi Kushi Kabhi Gham, dan Dilwale Dulhania Le Jayenge. cara bertutur SRK yang khas dipandu dengan Kajol yang kali ini terlihat makin prima membuat cerita film sepanjang 161 menit ini tidak membosankan meski beberapa adegan memang terlihat dipanjang-panjangkan, gaya penuturan film yang naskahnya di tulis oleh Shibani Bathija ini tampak beda dari film Bollywood lainnya yaitu dengan mengurangi adegan tari-tarian dan tingkah laku bombastis dan berlebihan seperti yang sudah lazim dipraktekkan oleh sineas-sineas India pada umumnya. namun sang penulis tetap memakai jurus ampuh khas film Bollywood yang selalu sukses mengobrak-abrik perasaan penonton untuk ikut terbawa suasana haru yang dialami karakter dalam filmnya hingga kemudian berpotensi membuat banjir air mata di dalam bioskop hingga ending kredit keluar.

Well, karena gue meski sudah menyukai film Bollywood sejak dahulu kala namun baru pertama kali ini nonton film India lewat media bioskop apalagi untuk sekelas XXI, jadi gue masih menganggap film ini adalah salah satu film Bollywood terbaik yang pernah saya tonton dengan berbagai kelebihan diantaranya adalah pemain film ini adalah mega bintang Bollywood, di buat oleh patungan antara Darma Production dan  20th Century Fox, ceritanya nggak secetek film Bollywood lainnya, dan soundtracknya yang juga mengalun indah, serta yang terakhir adalah karena nontonnya di bioskop. btw bagi anda yang menyukai film Bollywood maka segeralah mengunjungi bioskop terdekat di kota anda, dan bagi yang tidak suka namun hanya ingin punya pengalaman nonton film Bollywood gue sarankan tontonlah film ini.

Cast :
Shahrukh Khan as Rizwan Khan
Kajol as Mandira
Jimmy Shergill as Rizwan’s brother
Zarina Wahab as Rizwan’s mother
Tanay Chheda as Rizwan Khan (Kecil)
Christopher B. Duncan as President Barack Obama
Jennifer Echols as Mama Jenny
    Director : Karan Johar
    Durasi : 161 Menit
    Official Site : http://www.mynameiskhanthefilm.com
    The Theater : http://www.21cineplex.com
    My Name Is Khan Memorabel Quote :
    Rizwan Khan : "My Name Is Khan, But I Am Not The Terorist"
    My Name Is Khan Movie Scene Gallery :

    Movie Review : From Paris With Love [2010]


    From paris With Love Movie Poster

    "Two Agents.. One City.. No Merci" 

    SUTOS XXI, Row E-10, Studio-2, Date 09 Feb 2010, Time 14.35 WIB, Rp 20.000;
    -------------------------------------------------------------------------------------------------
    The Review : Sebenarnya saya nggak ada niat nonton film From paris With Love, namun karena kesalahan saat beli ticket yang seharusnya Legion lebih dulu baru setelah itu beli ticket Edge Of Darkness. kekacauan terjadi saat ticket Edge Of Darkness jam pertama sudah kadung dicetak dan ternyata waktu untuk nonton Legion tidak cukup, jadi kemudian saya putuskan untuk nonton film From Paris With Love hanya untuk mengisi waktu kosong. Terlepas dari film, kemarin saya juga beli CD audio group musik Monkey To Millionaire album Lantai Merah karena alasan tertarik dan penasaran setelah membaca review bagus tentang group musik ini dari Majalah Rollingstone Indonesia, barulah saya nonton film From Paris With Love. Jika mau menghitung, uang yang saya habiskan hari itu adalah 95 ribu rupiah. ajigile habisnya banyak juga ya..


    Film From Paris With Love bercerita seputar James Reece (Jonathan Rhys Meyers) yang bekerja sebagai Asisten Pribadi Duta Besar Amerika Serikat di Perancis. Pintar dan jago bermain catur, itulah kelebihannya, selama ini dia hanya mendapat tugas cetek seperti menukar plat mobil. Tnggal di apartemen bersama sang kekasih yang dicintainya, Caroline (Kasia Smutniak). namun semuanya berubah saat dia diharuskan untuk menjadi partner dari Charlie Wax (John Travolta), seorang agen senior. Perilaku Wax yang meski urakan dan kasar namun sangat jago berkelahi dan membunuh musuhnya  membuat Reece kaget, dan berniat untuk mengundurkan diri dari dunia ini. Namun kejutan dibelakang memaksanya untuk tetap menjalani kasus ini.

    Bagi saya, awal adegan dari film ini sangat tidak meyakinkan dan saya langsung berpikir negatif. Namun munculnya Wax yang sangat Amerika merubah semuanya menjadi aksi heroik ala “Die Hard” dari Bruce Willis yang berlebihan serta terkesan tidak masuk akal seakan semuanya mudah bagi Wax dan Wax pun seperti superhero yang tidak pernah lecet, luka, dan dia juga anti peluru, bahkan kesan perancis di film ini juga seketika hilang. Yang menarik adalah keputusan Wax untuk menembak teman Caroline cukup mengejutkan seperti film “Taken” yang kebetulan juga di meja makan dan oleh sutradara yang sama, scene penduduk kumuh seperti dalam film “B13” [yang juga karya Luc Besson], dan adegan di jalan tol yang mirip dengan ending film “The Kingdom” tahun 2007 lalu menjadi warna action seru nonstop dari film ini. Akhir kata, John Travolta memang sangat cocok memerankan orang yang gagah apalagi menjadi tokoh penjahat [ingat film “The Taking Pelham 123” tahun 2009 lalu] dan untuk ukuran Luc Besson [sutradara], film ini masih lebih baik dan lebih menghibur karena banyak adegan aksinya ketimbang B13.

    Hajar Dulu, Baru Ngobrol..

    Wah, tinggal menunggu kedatangan “The Wolfman”, “Valentine’s Day”, “My Name Is Khan”, dan “Percy Jackson And The Olympians : The Lightning Thief” minggu depan yang kebetulan keempat film tersebut dirilis pada tanggal yang sama yaitu 12 February 2010.

    Cast :
    John Travolta as Wax
    Jonathan Rhys Meyers as James Reece
    Kasia Smutniak as Caroline
    Ricard Durden as Ambassador Bennington
    Ying Bing as Mr. Wong
    Amber Rose Revah as Nichols

    Director : Luc Besson
    US Release Date : 5 February 2010
    Official Site : www.frompariswithlovefilm.com
    The Theater : www.21cineplex.com
    Movie Trailers
    From paris With Love Movie Quote :
    FBI agent Charlie Wax: Shoot the fucker.
    Richard Stevens: I'm not gonna shoot him Wax.
    FBI agent Charlie Wax: Next time I tell you to shoot the fucker, shoot the fucker!
    From Paris With Love Movie Scene Gallery’s :


    Movie Review : Edge Of Darkness [2010]

    "Some Secret Take Us To The Edge"

    SUTOS XXI, Row A-9, Studio-4, Date 09 Feb 2010, Time 12.30 WIB, Rp 20.000;
    ---------------------------------------------------------------------------------------------------
    The Review : Well, setelah lelah antri bayar SPP di Bank Jatim Rp 500.000 dan setelah nilai ujian UAS keluar. Herregistrasi, Siakad, dan mencari DPA adalah bagian paling menakutkan di kampus Universitas Jember, untung gue bukan mahasiswa FISIP atau FKIP yang menurut surat kabar musti ngantri sampai 7-8 jam dan untuk mengambil nomer antrian saja mereka harus mengambilnya jam 2 pagi. Eniwey, heran memang mahasiswa seperti gue masih belum juga lulus padahal sudah semester X alias sepuluh, entah kapan gue lulus namun yang jelas tahun ini harus segera lulus. Terlepas dari itu semua, relaksasi memang sangat dibutuhkan untuk saya pribadi apalagi banyak peristiwa aneh dan unik yang menimpa saya beberapa minggu yang lalu dan hingga hari ini pun saya belum menemukan titik terangnya, peristiwa tersebut datang mulai dari kisah isu pertunangan absurd dengan adik gue sendiri, ujian KK belum juga selesai, hingga masalah keuangan dan tanggung jawab saya terhadap keluarga. Film merupakan salah satu jalan keluar selain musik yang sudah setiap hari saya dengar, setelah absen selama satu bulan lebih tidak nonton film di bioskop maka hari ini saya ingin meluapkan hobi saya tersebut dengan menonton film “Edge Of Darkness”, “From Paris With Love”, dan rencananya sih sama Legion di XXI yang memang sejak akhir bulan january lalu saya tunggu, namun Legion batal karena kesalahan teknis dari gue sendiri. Sebelum bercerita lebih dalam tentang kualitas film tersebut, pertama saya akan kasih plot film “Edge Of Darkness” yang di bintangi oleh Mel Gibson ini.


    Jadi film ini bercerita tentang Thomas Craven [Mel Gibson], seorang veterean detektif pembunuhan di kepolisian Boston dan seorang ayah tunggal. Saat anak semata wayangnya, Emma [Bojana Navakovic], 24 tahun, dibunuh didepan mata kepala Thomas itupun di depan rumahnya sendiri, semua orang menduga bahwa Thomas-lah target utamanya. Thomas akhirnya mengetahui kehidupan putrinya serta pembunuhnya. Penyelidikan Thomas membawa kepada penyamaran, persekongkolan, dan pembunuhan, dan ini dibayangi Darius Jedburgh [Ray Winstone], orang yang ditugaskan untuk membersihkan semua bukti kejahatan. Usaha Thomas untuk mencari penyebab pembunuhan putrinya berubah menjadi petualangan yang penuh emosi.

    Apakah sekilas dari plot diatas langsung mengingatkan anda terhadap film “Taken” yang dibintangi Liam Nesson? Bila jawaban anda “ya” berarti saya tidak sendirian, tidak menjiplak memang, namun tema yang diusung oleh Mel Gibson dan Martin Campbell selaku sutradara yang pernah mencetak “Casino Royal” tahun 2006 yang lalu ini sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang baru. Bedanya, kali ini baik ayah maupun anak meninggal semua. Dan yang baru disini hanyalah cara mengeksekusi pemain dengan gaya yang mengejutkan ini patut di acungi dua jempol, lihat kembali adegan putrinya sewaktu ditembak, teman Emma yang ditabrak mobil, dan rangkaian aksi di bagian ending sungguh membuat miris. Ending filmnya mengingatkanku kepada film The Departed. Well, Tidak dapat dipungkiri bahwa film ini membuat daftar film bertema balas dendam semakin bertambah banyak, meski secara filmis ceritanya buruk. Namun hal itu kembali kepada mood penontonnya, dan saya pribadi terhibur oleh film ini ketimbang memaksakan diri untuk tersenyum menikmati kegalauan hati satu minggu terakhir. So, saya sangat puas dengan film “Edge Of Darkness” ini dan juga “From Paris With Love” yang memang saya tonton dalam satu hari full.

    Cast : 
    Mel Gibson as Thomas Craven
    Ray Winstone as Jedburgh
    Denny Huston as Jack Benneth
    Bojana Novakovic as Emma Craven
    Shawn Roberts as David Burnham
    David Aron Baker as Milroy
    Jay O. Sanders as Whitehouse

    Director : Martin Campbell
    US Release Date : 01 February 2010
    Official Site : www.edge-of-darkness.warnerbros.com

    Edge Of Darkness Quote :
    Thomas Craven: [from trailer] You had better decide whether you're Hangin 'on the cross ... or bangin 'in the nails.
    Thomas Craven: Welcome to Hell!
    Senator Jim Pine: I am a United States senator!
    Jedburgh: By what standards?
    Thomas Craven: I'm a guy with nothin to lose!
    Thomas Craven: Fasten your seatbelt!
    Edge Of Darkness Movie Scene Gallery's:

    Related Posts with Thumbnails
    top