Showing posts with label Movie Review. Show all posts
Showing posts with label Movie Review. Show all posts

Movie Review : The Lovely Bones [2009]

Nah hasrat nonton film Lovely Bones sedari dulu akhirnya sukses juga, puas rasanya mengingat saya selalu mengagumi semua karya Peter Jackson sebelum film ini.
 .
Poster Film The Lovely Bones
.
Resolusi yang ingin diwujudkan oleh Sutradara yang kerap memakai teknology digital dalam setiap karyanya ini mungkin direspon kurang positif oleh penggemarnya, nama besar Lord Of The Ring dan Kingkong jelas menjadi batu sandungan yang akan selalu menghantui segala aspek kemungkinan terburuk dari drama adaptasi karangan Alice Sebolt ini. okelah Kingkong kita singkirkan terlebih dahulu meski film monyek raksasa tersebut masih sangat megah kecuali naskahnya yang berada pada level aman, adaptasi sebelumnya sungguh merupakan mahakarya yang terus terang berbeda level bila harus disandigkan dengan film Lovely Bones ini. namun usaha keras itu bukannya tidak ada, kisah tentang Sussie yang kental dengan aroma drama pembunuhan ini diterjemahkan dengan sangat baik, padaahal secara cerita sebenarnya agak sederhana. point possitif karya Peter Jackson ini [juga dalam versi Kingkong] terletak pada visualisasi mewah tiap scene yang dibangun sesuai suasana hati pemainnya.

 .
Pemain : Mark Wahlberg, Susan Sarandon, Rachel Weisz, Stanley Tucci, Saouirse Ronan, Michael Imperioli, Jake Abel, Amanda Michalka.
Sutradara : Peter Jackson
Naskah : Fran Walsh dan Philippa Boyens
Tanggal Rilis : 7 April 2010 [Indonesia]
Durasi : 136 Menit
Jenis : Drama, Fantasy, Thriller
Tagline : The Story Of A Life And Everithing That Came After
Distributor : Dreamwork SKG
.
Sinopsis : Susie Salmon (Saoirse Ronan) sebenarnya hanya ingin mencari jalan paling singkat menuju rumahnya saat pulang sekolah. Celakanya ide sederhana ini berubah menjadi malapetaka ketika ia bertemu George Harvey (Stanley Tucci), tetangga Susie yang ternyata adalah seorang psikopat. Sayang semuanya sudah terlambat. George lantas memperkosa Susie dan menghabisi gadis belia ini. George kemudian memotong-motong tubuh Susie dan membuangnya di sebuah lubang di tempat yang terpencil. Tubuh Susie tak pernah ditemukan kecuali sepotong tangan yang tercecer saat George membuang tubuh Susie. Pasca kematian Susie ini, keluarga Susie mulai didera perasaan bersalah. Perlahan keluarga yang semula harmonis ini mulai terpecah belah. Jack (Mark Wahlberg), ayah Susie mulai sering mengurung diri sementara Abigail (Rachel Weisz), ibu Susie mulai dekat dengan detektif Len Fenerman (Michael Imperioli) yang menyelidiki kasus kematian Susie. Pada saat petunjuk mengenai kematian Susie mulai terungkap, George Harvey telah lama menghilang sementara keluarga mendiang Susie pun sudah terpecah-belah.
.
Review : Tidak ada yang keliru memang bila Peter mengangkat tema Drama, namun jujur bukan disinilah bidang Peter. meski baik LOTR maupun Kingkong masih berbau drama, tapi berbeda dengan drama yang diracik disini, film ini serasa kehilangan sentuhan Peter yang megah dan raksasa tanpa ada monster ganas seperti dalam LOTR dan tidak ada dinosaurus ngamuk seperti dalam Kingkong, jelas pilihan bangting setir ini bagi saya hanyalah uji coba dari Peter Jackson saja dengan bermain-main diluar kebiasaannya. akting pemainnya lantas hanya mengandalkan sussie seorang, Mark Walhberg tidak berkembang meski dibeberapa bagian terlihat menonjol. Susan Sarandon dan Rachel Weisz bermain baik namun masih berada dibawah film-film yang pernah membuatnya tenar sebelumnya, Stanley Tucci malah terlihat paling mempunyai greget dengan sifatnya yang misterius namun ternyata psikopat dan pelaku pelecehan seksual. Overall, mungkin meski hal ini tidak akan dipertahankan oleh Peter [semoga saja demikian] hemat saya, sebaiknya Peter menjauhi tema drama "sederhana" seperti ini. meski tetap karya yang satu ini tidak boleh dilewatkan begitu saja, namun gebrakan selanjutnya setidaknya jangan kemabli bermain-main dengan genre drama yang terbukti tidak laris dipasaran ini. Peter mungkin sudah kapok, dan hebatnya proyek Tintin dan The Hobbit bersama Steven Spielberg dan Guillermo Del Toro akan menandai kembalinya sang sutradara ke jalan yang benar yaitu fantasy.
Cast : Leonardo DiCaprio (Teddy Daniels), Mark Ruffalo (Chuck Aule), Ben Kingsley (Dr. Cawley), Max Von Sydow (Dr. Naehring), Michelle Williams (Dolores Chanal), Jackie Earle Haley (George Noyce).
Sutradara : Martin Scorsese
Naskah : Laeta Kalogridis dan Dennys Lehane
Tanggal Rilis : 3 Maret 2010 [Indonesia]
Durasi : 138 Menit
Genre : Crime, Drama, Mystery, Thriller,
Tagline : Someone Is Missing
Distributors : Paramount Picture

Review : Akhirnya nonton juga film ini, setelah menunggu lama dan setelah makin penasaran karena membaca ulasan baik dari blog film tetangga sebelah maupun media cetak seperti majalah film hasrat untuk nonton film ini makin serius saja. Martin Scorsese adalah sutradara yang sangat perfeksionis untuk urusan kualitas filmnya, tengok saja vitamin yang selalu diberikannya pada karya sebelum film ini kelar. rata-rata semuanya kelas A dan dipastikan selalu berujung pada acara festival bergengsi sedunia, hebatnya lagi kini dia memiliki anak asuh yang sangat tepat bernama Leonardo DiCaprio yang tak pernah bermain cetek disetiap filmnya kecuali The Beach yang memang rusak parah dari berbagai sisi. jelas kolaborasi keduanya merupakan tambang emas yang sangat berkualitas tinggi untuk kemudian dinikmati dalam sajian seni yang pekat dengan makna, meski terdengar terlalu serius. namun tidak melulu membuat film ini harus dihindari oleh penonton umum mengingat pembuktian kali ini adalah penguasaan tangga Box Office yang perkasa sebelum beberapa film popcorn datang menjegalnya, hal ini juga menjadi ending yang sama dengan The Departed yang juga laris manis dipasaran sekaligus berkualitas tinggi yang sanggup memenangkan berbagai piala bergengsi semacam Oscar.

Sinopsis : Film ini secara umum (21cineplex.com) Tahun 1954, dua Marshall Amerika menyelidiki hilangnya salah seorang pasien di rumah sakit para tahanan disebuah pulau di Massachusetts. Mereka menemui banyak rintangan saat mereka menginterogasi kepala rumah sakit, badai dahsyat dan semua keganjilan-keganjilan disekitar rumah sakit tersebut.


Keganjilan demi keganjilan yang datang menuruni setiap scene film ini terlihat begitu fantastis dengan penghayatan tingkat tinggi dari semuar element dalam filmnya, Leonardo bermain terbaiknya sebagi Teddy disini. kualitas aktingnya begitu baik sejajar dengan performa sebelumnya dalam Revolutionary Road, The Departed, dan Blood Diamond. selain Leo, hampir semua pemain begitu sempurna dalam penghyatan karakter yang diembannya, terhitung mulai Mark Ruffalo, hingga Haley yang sebentar lagi akan kita lihat lagi aktingnya dalam Nightmare On Elm Street sebagai Freddy. selain cerita dan kualitas Akting dari pemainnya, film ini juga sangat mengusung suasana noir yang kental dan detail. iringan musik score dan beberapa penggalan lagu klasik membuat tingkat kemisteriusan film ini makin terjaga dengan baik untuk mengantarkan penonton pada ending yang yang kerap membuat orang takjub tentang apa yang sebenarnya terjadi, penggambaran halusinasinya juga begitu indah sekaligus menakutkan dan mencekam untuk kita dalami.

Overall, terlalu lebay memang jika kita menanjungnya setinggi langit. namun hal itu kemudian dapat dimaklumi mengingat keakuratan dan tingkat detail yang diberikan begitu hangat dan sangat berkualitas melebihi ekspektasi penonton sebelumnya, untuk malasah ending 20 menit terakhir dalam film ini bukanlah masalah hal itu kemudian seperti gampang ditemukan kunci jawabannya. namun perjalanan menuju ending dari awal film ini membuat kita bilang bahwa inilah mahakarya berkualitas yang patut diapresiasi lebih mengingat tiap jengkal dari kisahnya dibuat setulus hati hingga berdampak manis yang akan dikenang oleh penonton setidaknya satu dekade kedepan.

Jelas Film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton bila bioskop di daerah masih memutarnya, dan kemudian dikoleksi untuk konsumsi home video pada saat perilisan DVD/BD originalnya kelar nanti..


Movie Review : The Book Of Eli [2010]

Bagi saya tidak banyak aktor kulit hitam yang minimal baik secara akting maupun memiliki popularitas sebagai aktor favorit, dan jelas Denzel Washington berada dalam list pemain kulit hitam paling top selain Will Smith dalam dunia perfilman. film The Book Of Eli yang sedianya dirilis januari yang lalu memang menajdi incaranku sebagai film pembuka tahun 2010 selain Edge Of Darkness yang sudah sukses saya tonton awal tahun tersebut, namun ternyata khusus film Washington ini mengalami penundaan dalam perilisannya di Indoensia.

Poster Film The Book Of Eli [2010]

Secara umum film ini bercerita tentang (21cineplex.com) suatu masa di masa depan, tiga puluh tahunan setelah perang terakhir, seorang pria berjalan kaki menyusuri kota mati yang dahulunya adalah Amerika. Jalanan menjadi milik kelompok-kelompok jahat yang sanggup membunuh demi sepasang sepatu, seteguk air atau demi tanpa apa pun. Namun kekuatan mereka tidak sebanding dengan musafir ini. Seorang ksatria dengan sebuah tugas, Eli (Denzel Washington) mencari kedamaian, namun jika ditantang, ia akan mengalahkan semua penyerangnya sebelum mereka sadari kesalahan mereka. Bukan nyawanya yang ia jaga melainkan harapan untuk masa depan, sebuah harapan yang ia bawa dan lindungi selama tiga puluh tahun. Dorongan komitmen dan kepercayaan yang lebih besar dari yang ia miliki, Eli melakukan apa yang seharusnya ia lakukan dan terus menerus. Hanya ada satu lawan yang mengetahui kekuatan Eli, dan ia ingin merebutnya yaitu Carnegie (Gary Oldman), raja egois yang memimpin kota para pencuri dan penembak. Sementara itu, anak angkat Carnegie, Solara (Mila Kunis) terpesona oleh Eli karena alasan lain visi yang ditawarkan Eli melebihi yang dimiliki ayah tirinya. TIdak mudah mengalahkannya. Tidak ada tidak seorang pun dapat menghalanginya. Eli harus mencapai tujuannya dan membawa bantuan bagi umat manusia

Film ini pada awalnya memiliki pemandangan khas film lain yang beraroma post-apocalyptic atau jaman pasca kiamat semisal I Am Legend, The Road, Terminator Salvation, Waterworld, dan lain lain, kelebihan film ini mungkin terlihat pada imbuhan action dari Denzel dengan kelompok manusia yang semakin kanibal tersebut. konsep cerita yang bawa oleh film ini sedikit mengarah pada sisi religius dan mungkin lebih tepat sebagai film religius namun dengan tambahan action didalamnya, perjuangan Eli untuk melindungi buku ini sebenarnya cukup aneh apabila dia kemudian bertujuan untuk membuat manusia kembali menjadi manusia dan memiliki rasa kemanusiaan mengingat kondisi pasca kiamat di film ini menggambarkan manusia-manusianya memiliki cara berfikir yang instan dan primitif semenjak makin berkurangnya harapan untuk bertahan hidup secara standard semisal makan minum dan lainnya. imbuhan action jelas berpengaruh terhadap hasil akhir dari film ini, terlihat meski sedikit namun gaya "perang" yang diperlihatkan cukup maksimal ditengah dunia yang sudah tidak terurus dan sangat muram durja ini. Menilik kualitas acting terutama untuk Denzel Washington, dia bermain baik disini meski bagi saya masih berada jauh dibawah Indside Man [2006] dan berselisih tipis dengan American Gangster [2007]. dengan pakaian lusuh dan bibir kering serasa sudah berhari-hari belum minum namun memiliki insting bertarung yang jujur sangat hebat untuk kalangan orang yang sedang dilanda dehidrasi, Gary Oldman juga bermain bagus di film ini dan ternyata juga sanggup bermain dikarakter jahat yang berbanding terbalik dengan peran sebelumnya dalam film The Drak Knight [2008]. yang terlihat kurang mungkin akting Mila Kunis yang hanya kebagian peran "pemanis" dalam film ini, karakternya kurang berkembang meski cukup sentral dari awal hingga akhir selain kedua aktor diatas.

Overall, sangat disayangkan memang Denzel Washington mau terlibat dalam film ini mengingat temanya yang agak popcorn meski secara spesifik masih original terutama bagian pengembaraan ini setidaknya sebelum film ini belum ada yang mengangkat tema religius pasca kiamat, bagaimanapun Denzel tetap menjadi penyelamat film ini layaknya I Am Legend yang terlselamati oleh Will Smith tempo hari. dan bahkan beberapa pengamat mengatakan bahwa film The Book Of Eli merupakan salah satu film terburuk milik Denzel Washington, namun apapun itu film ini masih memiliki point positif. agak kurang begitu recomended kecuali bila anda memang menyukai kisah post apoclypstic semisal knowing dan kawan-kawannya.

Pemain : Dnezel Washington, Gary Oldman, Mila Kunis, Ray Stevenson, Jennifer Beals, Frances De La Tour, Micahel Gambon.
Sutradara : Albert and Allen Hughes
Durasi : 117 Menit
Penulis Naskah : Gary Whitta
Produser : Joel Silver, Denzel Washington, Susan Downey.
Distributor : Columbia Pictures
Homepage : http://thebookofeli.warnerbross.com/


Movie Review : Hari Untuk Amanda [2010]


Pemain : Oka Antara, Fanny Febriana, Noveletta Dinar, Aida Nurmala, Kinaryosih,
Sutradara : Angga Dwimas Sasongko
Naskah : Salman Aristo, Ginatri S. Noer
Produser : Dedy Abdurachman
Tanggal Rilis : Januari 2010
Genre : Drama Romantis
Kategori : Home Video/VCD/DVD
Negara : Indonesia
Distributor : MNC Pictures, Visinema Pictures, 
Durasi : 95 Menit

Plot : Amanda [Fanny Febriana] dan [Reza Harardian] dalam sepuluh hari kedepan akan segera melangsungkan pernikahan, karena pekerjaan super sibuk sehingga membuat Amanda  kesepian dan mengurusi segala sesuatunya sendirian, sebuah kado dari Hari [Oka Antara] membuat Amanda kembali menemui Hari yang tak lain adalah mantan pacarnya. kedatangan kembali Amanda kerumah Hari hingga Hari mau mengantarkan undangan pernikahannya perlahan membuka kembali tabir masa lalu diantara keduanya, namun siapakah pilihan hati Amanda yang sesungguhnya??

Komentar Kami : Di jaman sekarang atau paling tidak dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, pergeseran tema film di negeri ini semakin mengarah kepada jenis yang seragam dan cenderung  monoton. karena sebelumnya tidak banyak tema horror yang diangkat segila dan semembeludak seperti sekarang, kreatifitas bukan dikembangkan pada genre selain komedi, drama, dan horror, melainkan tema "sampingan" yang bisa dikais dari 3 tema sentral tersebut. kemudian setelah habis digali dalam-dalam, ujung kendali selanjutnya disilang sesuka hati untuk mengaburkan perkiraan penonton akan tema yang sudah mulai jenuh dengan teori sebelumnya. tidak ada memang dalam satu film hanya terdapat satu macam genre, namun perkawinan silang yang banyak dilakukan oleh sineas-sineas beberapa tahun terakhir ini semakin kacau meski secara siasat-menyiasati kelesuan penonton dan secara hitungan ekonomis benar.

kawin silang disini mungkin berkonotasi negatif dan bahkan berujung kontroversi, namun hal itu terbukti sangat ampuh dihari pertama pemutaran atau hanya sekedar menghebohkan sampai menjubeli surat kabar dan berita-berita televisi terutama gossip pagi hari untuk menemani ibu-ibu memasak didapur dan membuat para orang tua, pengamat film, dan masyarakat umum prihatin dengan kondisi perfilman saat ini. bagi saya tema horror kawin silang dengan komedi nyaris membuat saya selalu prihatin apalagi ditambah doorprice aksi pamer paha, belahan dada, dan bokong semok. namun seperti biasa, kemudian akan datang sebuah karya seni "superhero" untuk menyelamatkan atau memberi gambaran lain dari tema horror-komedi-seks tersebut. bukan bermaksud men-superior-kan film ini, namun fakta yang terjadi tidak bisa kita tutup-tutupi bahwa film ini datang dengan semangat indie atau pengistilahan lain dari trend perfilman yang beraksen negatif seperti yang telah saya tulis diatas, film ini sangat baik kualitasnya daripada tema diatas dan itu jelas.

kembali ke filmnya, cerita tentang CLBK atau cinta lama bersemi kembali ini di susun dengan semangat akting pemain yang luar biasa baik. Oka Antara [Hari] seperti biasa aktingnya semakin baik saja hingga dalam setiap sikapnya mampu kita pahami dengan beberapa potongan sejarah cintanya yang "nampaknya" begitu manis dengan Fanny Febriana [Amanda] dan kembali datang untuk meyakinkan Amanda, begitu pula dengan Fanny Febriana yang cukup mengimbangi pesona Oka Antara. chermistry keduanya dapat dengan mudah membawa penonton kepada sebuah peristiwa yang dekat dengan keseharian kita apalgi bagi anda yang mempunyai kisah yang sama dengan film ini. untuk ukuran sebuah drama yang simple yang hanya dilakukan dalam satu hari kejadian, film ini jauh lebih berkualitas dibandingkan rombongan horror bikini yang merajalela belakangan ini.

sokongan kualitas akting dari para pemain bukanlah satu-satunya penolong film ini, karena twist yang diselipkan di penghujung film membuat karakterisasi dan alur yang makin mantab menjelang ending. adapun point positif lainnya datang dari soundtrack yang pas dan mampu memberi feel lebih pada jiwa film ini yang mengisyaratkan kegundahan akan pilihan hidup dan pilihan kekasih terbaik bagi Amanda, film ini adalah sebuah drama hidup seorang Amanda dan kepada siapa hati Amanda yang sesungguhnya dilabuhkan.

pada akhirnya mengulik semua vitamin film ini menyadarkan saya akan sesuatu yang sedang saya alami dan menjadikannya sebagai pelajaran mahal untuk kedepannya, dan untuk ukuran kualitas sebuah film dalam negeri penyelamat itu datang bukan lagi berbentuk otot kekar yang mampu menghancurkan sebuah tembok yang maha kuat namun hanya berupa hati yang terkadang mampu dengan mudah melunakkan semua jenis halangan. dan tahun 2010 ini diawali dengan baik oleh film ini, meski sayang kemaren saya belum sempat untuk menyaksikannya di gedung bioskop yang kini saya saksikan lewat home video.

bagi penyuka film romantis, tidak banyak yang saya rekomendasikan bila film yang dimaksud adalah film dalam negeri. namun apapun itu, film ini jelas menempati lima besar film romantis indonesia satu dekade terkahir ini, jadi apakah patut dikoleksi? jawabannya adalah wajib..

Movie review : Hachiko : A Dog's Story [2010]


Sinopsis : sepulang dari kerja, Profesor Wilson [Richard Gere] mendapati seekor anjing yang tersesat. berusaha ingin mengembalikannya, kemudian anjing lucu ini malah diadopsi oleh Wilson. anjing ini pun kemudian diberi nama Hachi sesuai dari nama dalam bahasa jepang yang terdapat dikalungnya, kedekatan keduanya terus terjalin hingga maut memisahkan keduanya.
.
Cast : Richard Gere (Parker Wilson), Sarah Roemer (Sarah Wilson), Joan Allen (Cate Wilson), Robert Capron (Student), Jason Alexander (Carl), Cary-Hiroyuki Tagara (Ken), Kevin DeCoste (Ronnie), Forest (Hachiko).
.
Sutradara : Lasse Halstrom
Naskah : Sthepen P. Lindsey, Kaneto Shindo
Tanggal Rilis : 08 Agustus 2009 [Jepang]
Durasi : 93 Menit
Genre : Drama, Family
Tagline : A True Story Of Faith, Devotion And Undying Love
Distributors : Inferno Distributions
.
Komentar kami : Sebuah drama yang pada awalnya saya pikir akan sangat membosankan diubah dengan cerdik oleh film ini, okelah sebelum saya menulis kalimat diatas terlebih dahulu berburu opini dari blog film sebelah untuk mengetahui lebih jauh tentang kehebohan film ini yang katanya mampu menguras air mata. barulah kemudian saya mencoba untuk nonton akibat dari beberapa opini yang saya dapatkan tersebut, dan barulah saya menulis kalimat diatas. bagi yang yang sudah familiar dengan kisah nyata anjing yang diberi nama Hachiko sesuai dengan nama dalam kalungnya ini pasti akan merasakan dampak luar biasa terhadap film ini, apalagi bagi yang suka dan sedang memelihara hewan tersebut pastinya akan mendapatkan pengalaman yang luar biasa terhadap film ini. namun saya sendiri lain dari kriteria tersebut, meski bagi saya sebagai penikmat film haruslah fair dalam menilai sebuah tayangan sinematik.

kemudian opini pun muncul untuk mengatakan bahwa film ini memang sangat baik, "akting" Hachiko sangat pas untuk membantu mereka yang tidak mempunyai atau memelihara seekor anjing supaya dengan mudah memahami apa yang dipikirkan oleh Hachi, Richard Gere seperti biasa cukup memberi sosok karismatik seorang profesor dalam cerita film ini hingga kedekatannya dengan Hachi. tema yang sederhana tak lantas membuat film ini menjadi monoton dan ditinggal penontonnya, kesetiaan Hachi untuk terus mengantarkan majikannya ke sebuah stasiun kota lalu pulang dan jam 5 sore Hachi pun sudah menunggu tuannya di stasiun adalah pelajaran yang baik hingga bahkan mulai dilupakan oleh manusia.

balas jasa yang diberikan oleh Hachi atas pertolongan dan cinta dari sang profesor membuat Hachi rela sembilan tahun menunggu distasiun menanti kedatangan tuannya yang telah lama wafat karena serangan penyakit adalah harga yang sangat mahal untuk ditemukan dalam era modern ini, apalagi kita sebagai manusia khususnya Indonesia sudah mulai tergerus budaya sosial dan merubahnya dengan sikap individualis membuat tokoh Hachi seakan sebuah pesan kronis untuk direnungkan.

bagi pencinta film drama, hewan, dan film tentang hewan, jelas film ini harus masuk daftar list koleksi anda. eniwey, sayangilah apapun hewan peliharaan anda karena bagaimanapun sebenarnya mereka juga butuh kasih sayang dari kita. pesan ini juga saya dapatkan dari film tentang hewan sebelumnya yaitu How To Train Your Dragon, tak ada perbedaan diantara keduanya kecuali animasi tentunya.


Sinopsis : Selama pendudukan Amerika di Baghdad tahun 2003, Kepala Perwira Roy Miller (Matt Damon) dan tim inspektur Angkatan Darat dikirim untuk menemukan senjata pemusnah massal yang diyakini disimpan di padang pasir Irak. Melacak situs bom berbahaya, para perwira ini mencari agen kimia berbahaya namun tersandung pada hambatan yang dapat membatalkan misi mereka. Dipusingkan oleh jadwal operasi yang dipercepat, Miller harus memburu agen tersebut melalui intelijen rahasia dan tersembunyi untuk mendapatkan jawaban yang jelas tentang kejahatan perang di wilayah yang tidak stabil. Dan saat keadaan makin memanas, Miller menemukan senjata yang paling sulit dipahami dari semuanya yaitu kebenaran
Penggalan Cuplikan Dari Film Green Zone [2010]


Review : Bicara film Green Zone tak ubahnya ketika kita sedang mengulik kembali franchise Bourne yang mengusung pemain, sutradara, dan beberapa element lainnya dalam film tersebut. namun disini Matt Damon bukanlah penderita amnesia, karena Miller (Damon) adalah pasukan khusus yang bertugas di Irak untuk mencari keberadaan sebuah senjata Kimia/Biologi. sejak peristiwa 9/11 Amerika memang giat dalam memerangi teroris ke seluruh penjuru bumi, namun khsusus film ini ada pandangan berbeda tentang perang yang sebenarnya dikumandangkan oleh negeri paman sam. sebuah usaha yang berujung kontroversial memang, namun bisa jadi hal tersebut memang kebenaran yang belum kita pahami.

Akting Matt Damon cukup baik disini menandakan bahwa Paul merupakan penyelamat setelah beberapa kali main difilm lainnya yang ternyata kurang direspon positif oleh beberapa kalangan, setelah sukses menghidupkan karakter Bourne yang dingin namun mematikan di film ini Damon juga lumayan berhasil menghidupkan karakter Miller yang kerap mempertanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi dibalik misi yang berujung nihil tersebut. sebagai musuh, Yigal Naor juga terlihat bengis namun tenang dengan prinsip yang dianutnya. begitu pula dengan pemeran reporter, Agen CIA, dan pemegang kunci anatara Irak dan Amerika, semuanya bermain baik.

Secara teknis, setting Irak yang ditampilkan disini merupakan visualisasi yang sangat mengagumkan dan tampak real. padahal perlu diketahui, tampilan Irak disini bukanlah Irak yang sebenarnya alias syuting ditempat lain diluar Irak. point tersebut nampak terjalin dengan baik apalagi dengan tambahan score dari John Powell yang memang ahli dalam meracik nada-nada tegang dan mencekam untuk mendukung feel dalam filmnya, selain itu ciri khas Paul yaitu Handheld Camera tetap dipertahankan dalam film ini sehingga terciptalah suasana film yang digabung anatara kamera yang berdetak cepat secepat jantung berdebar diiringi oleh score yang mencekam yang terlihat juga dari suasana Irak yang tidak pasti dan penuh misteri karena sewaktu-waktu kita bisa celaka dibuatnya.

Well, pada akhirnya tema yang sensitif ini tetap menghantui penghasilan film ini hingga detik ini. karena melihat Hurt Locker yang meraih enam Oscar saja tidak laris yang padahal temanya sudah bersahabat dengan Amerika, apalagi dengan tema sesensitif seperti karya Paul ini. namun meski begitu film ini tetap baik dan sangat direkomendasikan untuk ditonton baik bila dibioskop sudah mabis masa tayangnya maka home video merupakan jalan selanjutnya. karena sepertinya harga Blu Ray dan DVD sekarang semakin murah saja demi menarik minat konsumen untuk mengoleksinya kelak.

Pemain : Matt Damon (Roy Miller), Yigal Naor (General Al-Rawi), Nicoye Banks (Perry), Said Faraj (Seyyed Hamza), Jerry Della Salla (Wilkins), Sean Huze (Conway).
Sutradara : Paul Greengrass
Naskah : Brian Helgeland dan Rajiv Chandrasekaran
Tanggal Rilis : 12 Maret 2010
Durasi : 115 Menit
Genre : Action, Drama, Thriller, War.
Tagline : "Chief Warrant Officer Roy Miller is done following orders"
Distributor : Universal Pictures
Rating : R



Movie Review : Moon - [2009]

Sinopsis : Film ini pada awalnya menampilkan footage berupa tampilan berita TV bahwa Di masa depan, umat manusia yang mengalami krisis energi, menemukan sumber tenaga baru bernamaHelium-3, sebuah sumber tenaga yang cadangan daya terbesarnya ada di bulan. Sam Bell (Sam Rockwell) adalah astronot, pegawai perusahaan penambang Lunar Industries. Ia dikontrak selama 3 tahun untuk menambang mineral di sana. Sam ditempatkan seorang diri tanpa rekan di stasiun luar angkasa. Satu-satunya teman yang dapat diajak berkomunikasi, adalah komputer dengan kecerdasan buatan bernama Gerty (Kevin Spacey). Hanya tersisa dua pekan masa tugasnya berakhir setelah 3 tahun bekerja di Bulan. Pada sebuah inspeksi rutin di permukaan bulan, tiba-tiba Sam merasa tak enak badan. Ia mengalami sakit kepala yang hebat dan berhalusinasi dan kemudian menabrak truk besar didepannya. Saat tersadar, Sam mendapati dirinya sudah kembali berada di stasiun. Dari sinilah keanehan mulai terjadi, dengan waktu yang tersisa, ia coba menguak misteri ini.

Cast : Sam Rockwell (Sam Bell), Kevin Spacey (GERTY), Dominique McElligott (Tess Bell), Rosie Shaw (Little Eve), Andrienne Shaw (Nanny).
Sutradara : Duncan Jones
Naskah : Nathan Parker dan Duncan Jones
Tanggal Rilis : 17 July 2009 [UK]
Durasi : 97 Menit
Genre : Drama, Mystery, Sci-Fi, Thriller.
Tagline : "The Last Place You’d Ever Expect To Find Yourself"
Distributors : Liberty Film, UK

Komentar Kami :  Angkasa adalah sebuah dunia luas yang sangat misterius, batas dunia ini begitu menakutkan hingga banyak kalangan menyimpulkan beberapa hal tentangnya. wahana luar angkasa juga menjadi ladang ilmu pengetahuan baru yang tidak bisa ditemukan di dunia, hingga banyak negara adikuasa berlomba-lomba untuk "menguasainya". film ini bisa dibilang ingin mengakomodasi hal tersebut dari sisi psikis para astronout-nya, dan itulah kekuatan dari film yang dibintangi oleh Sam Rockwell ini. film Moon bukanlah film dengan biaya se-raksasa Armageddon yang popcorn, bukan pula wah hingga mampu menjangkau antar galaxy seperti Star Wars, dan bukan pula begitu menakutkan seperti film Alien. film ini mencoba mencari alternatif lain yaitu thriller-psikologis, yaitu mengetengahkan faktor psikis atronout yang sendirian diluar angkasa selama tiga tahun.

Sebagai film kecil, cerita yang diracik oleh Nathan Parker dan Duncan Jones sendiri begitu apik. hal ini kembali membangunkan kita bahwa tak perlu biaya raksasa untuk membuat sebuah film fiksi ilmiah berkualitas tinggi, hanya dengan bermodal naskah yang baik maka film ini pun menjadi contoh yang harus dipikirkan lagi oleh sutradara-sutaradra sci-fi lainnya. apalagi jika mengkaitkan secara ilmiah bahwa diluar angkasa issue tentang alien masihlah simpang siur kebenarannya, yang kemudian dalam film ini kita mengenalnya hanya akibat dari halusinasi. faktor-faktor ilmiah di film ini masih lebih baik daripada film sci-fi besar lainnya yang berbiaya besar, seperti ruang hampa udara, kendaran luar angkasa, dan sulitnya terjadi percikan api, dan lain-lain.



Sam Rockwell yang kita ketahui pernah main di film Hitchhiker's Guide To The Gal;axy [2005], Frost/Nixon [2008], Charlie's Angel [2000], dan Green Mile [1999] serta akan kembali muncul tahun ini dalam Iron Man 2 sebagai Justin Hammer menjadi tugas yang berat baginya, apalagi di film ini Sam memenuhi 90% durasi filmnya sebagai atronout yang mengalami gangguan psikologis berat. namun semua itu dilahapnya dengan baik, aktingnya bagus dan sangat meyakinkan. kita seakan-akan menebak bahwa dia sedang mengalami halusinasi, namun kejutan dibelakang siap membuat anda tahu bahwa terkadang Sam bukan hanya mengalami halusinasi biasa. selanjutnya adalah Kevin Spacey yang kita ketahui pernah menjadi musuh Superman Returns [2006] yaitu sebagai Lex Luthor, disini dia hanya meminjamkan suaranya saja sebagai robot pintar bernama Gerty. namun meski begitu, suaranya sangat membantu feel film ini.

Finally, film tentang kesendirian diluar angkasa yang luas namun terasa sangat sempit ini begitu luar biasa dengan dukungan penuh Sam dan Gerty yang 90% mengisi film ini, dan disokong pula dengan detail-detail luar angkasa yang bisa dipertanggung jawabkan keilmiahannya membuat film ini selalu dikaitkan dengan 2001 : Space Oddysey yang terkenal itu. bagi penyuka film sci-fi dan film tentang psikologi, film ini sangat direkomendasikan untuk dikoleksi sebagai tontonan home video bersama keluarga anda.


Movie Review : Clash Of The Titans [2010]


Akhir-akhir ini kebiasaan keluar kota membuat kesehatan saya agak terganggu, sabtu-minggu kemaren saja saya 12 jam bermotor bersama rombongan temen2 NJIC dari Probolinggo-Bondowoso-Jember-Probolinggo-Bondowoso-Jember membuat punggung serasa remek. Namun diluar itu, saya mendapat hiburan berharga bersama temen2 SMA tersebut. Well, ngomongin April ini apalagi dikaitkan dengan film, belum apa-apa Indonesia sudah kebagian jadwal lebih dulu film Clash Of The Titans yang akan saya bahas kali ini. Jujur list selanjutnya saya tidak begitu yakin bisa melahapnya dengan sukses dibioskop, Ada Kick Ass yang sepertinya akan susah masuk ke bioskop tanah Air terutama Surabaya, terutama setelah melihat kasus Green Zone yang hingga hari ini belum ada kepastian untuk diputar dibioskop2 kota Pahlawan, Menebus Impian meski tetap ditunggu namun kekecewaan nonton Sang Pemimpi masih saja terngiang di otak untuk mempertimbangkan film ini secara lebih matang lagi, sisanya hanyalah A Nightmare On Elm Street yang dipastikan akan ditonton bulan Mei meski dirilis tanggal 30 April 2010.

Daftar film yang bertema Kolosal/Epic/Fantasy/Period/Medieval Time tahun ini semakin menumpuk, belum juga lelah ini hilang setelah berkuda bersama True Legend, 14 Blades, Confucius, The Wolfman, Alice In Wonderland 3D, dan How To Train Your Dragon 3D (khusus judul terakhir kuda diganti dengan Naga), kini dibulan April kita kedatangan oleh sebuah Epic kolosal Fantasy bertema tentang Mitology Yunani. Clash Of The Titans di Indonesia dirilis tanggal 1 April 2010, alias lima hari yang lalu. Film ini dibagi menjadi dua versi yaitu 2D dan 3D, untuk Jawa timur versi 2D bisa dinikmati diberbagai bioskop di Surabaya sedangkan yang 3D hanya diputer di Sutos XXI yang itupun mendapat jatah sore hari karena pada siangnya memutar film How To Train Your Dragon 3D. Saya nonton yang 2D karena alasan filmnya lebih asyik ditonton secara 2D daripada 3D akibat saya sering pusing bila memakai Kacamata 3D.



Clash Of The Titans adalah remake dengan judul yang sama yang dirilis pada tahun 1981 yang lalu, tentu dengan alasan untuk mengenalkan kepada generasi muda serta dengan bantuan teknology yang semakin canggih hingga dapat dengan baik dalam mengaburkan batas real dan effect komputer maka remake adalah ide yang kemudian dianggap paling menarik selain meraih keuntungan tentunya. Usaha yang sah memang, meski hal itu akan menjadi tanggung jawab yang sangat besar serta sangat sensitif apalagi bila pada saatnya nanti filmnya dianggap gagal. Tentu hujatan dan makian dari kritikus dan pengamat film seantero dunia akan menjadi daftar list mimpi buruknya sepanjang karier, faktor pendukung yang sudah pasti disukai oleh penonton adalah special effect yang sudah semakin banyak berkembang dan semakin merajalela dalam perfilman Hollywood beberapa thaun terakhir. Salah satu teknology terdepan yang sedang hangat-hangatnya adalah 3D, selain film ini saja tahun 2010 kita telah melewati 2 film 3D yaitu How To Train Your Dragon yang bryllian dan Alice In Wonderland yang pas-pasan karena model 3D-nya adalah konversi dari hasil kamera standard yang kemudian dijadikan tayangan 3D. 

Clash Of The Titans [2010]
Sinopsis : Terlahir dari dewa namun dibesarkan sebagai manusia, Perseus (Sam Worthington) tidak berdaya untuk menyelamatkan keluarganya dari Hades (Ralph Fiennes), dewa neraka yang penuh dendam. Dengan segala yang tersisa, Perseus sukarela memimpin misi yang berbahaya untuk mengalahkan Hades sebelum merebut kekuasaan dari Zeus (Liam Neeson). Memimpin sekelompok prajurit gagah berani, Perseus menuju ke dunia terlarang. Berperang melawan setan dan hewan-hewan menakutkan, ia hanya akan bertahan jika dia dapat menerima kekuatannya sebagai seorang dewa, menantang nasib dan menciptakan takdirnya sendiri

Cast : Liam Neeson (Zeus), Ralph Fiennes (Hades), Gemma Artenton (Io), Jason Flemyng (Calibos/Acrisius), Izabella Miko (Athena), Sam Worthington (Perseus), Alexa Davalos (Andromeda), Luke Evans (Apollo).

Sutradara : Louis Leterrier
Naskah : Travis Beacham
Tanggal Rilis : 01 April 2010 [Indonesia]
Durasi : 118 Menit
Genre : Action, Adventure, Fantasy, Romance, Family
Tagline : The Clash Begins 2.4.2010
Distributors : Warner Bross Picture

Sebelum saya nonton film ini, saya terlebih dahulu berburu review dan penilaian tentang film ini didunia maya. Dari beberapa blog film yang saya baca rata-rata menilai film ini kurang begitu recommended, lalu mengapa saya masih menonton film ini? Pertanyaan tersebut juga beberapa kali mengahantuiku yang pada akhirnya saya memberanikan diri berteriak bahwa saya nonton film ini hanya karena ingin mencari hiburan mata, melihat beberapa scene dari trailernya saya yakin bahwa film ini akan menyajikan tayangan penuh effect yang pasti akan memanjakan mata yang beberapa hari terakhir sering terlalu lelah karena menatap layar laptop dan terkena angin sewaktu mengendarai motor. Dan benar saja ternyata film ini memang sekilas lumayan memanjakan mata saya dengan effect-effect dunia fantasy tempoe doeloe yang aneh dan unik tersebut, namun bila ngomong ukuran jelas Avatar masih tetap nomer satu.

Menyorot tentang kualitas naskah atau cerita film ini, dengan berat hati saya nilai sangat kurang menantang bila tidak mau dibilang jelek. begitupun dengan akting pemainnya yang sangat standard, Liam Nesson masih lebih bijaksana di film Narnia, Ralph Fiennes angin berlalu, Gemma Artenton? wajahnya bikin film ini menjadi tertolong sedikit kecuali aktingnya yang masih harus ditambah jam terbangnya. setuju dengan reviewer blog-blog film tetangga sebelah, film ini kurang begitu recommended kecuali anda hanya ingin mencari hiburan bak-bik-buk dengan Kraken, Scorpiok, dan Medusa yang kali ini dibuat menyeramkan mirip film Susanna berjudul Petualangan Cinta Nyi Blorong yang saya tonton beberapa hari yang lalu


Catatan Nonton Bulan Maret 2010

Bukan tanpa terasa Bulan Maret 2010 telah kita tinggalkan, terhitung mulai penantian mendebarkan saat Alice In Wonderland 3D akan dirilis tanggal 4 Maret yang lalu bagi saya terasa begitu lama. dan setelah hari itu terlewati dengan segudang kegundahan hati karena terlampau kecewa terhdap filmnya, karena sungguh diluar dugaan bila Alice yang begitu saya nanti kemudian menjadi hidangan "Tea Party" yang terasa agak pahit buatan Mad Hatter yang memang bener2 "Mad". kesalahan Alice karena terlanjur masuk ke dunia yang salah membuat saya melupakan tidur sebagai rutinitas setelah jam 10 malam. pertanyaan yang membuat saya gusar adalah, dunia apa Underland itu? bukankah Alice harus masuk ke dunia Wonderland? Namun diluar itu, pujian pantas saya haturkan kepada piahk bioskop untuk beberapa judul dirilis terpaut satu hari hingga satu minggu dengan perilisan dinegara asalnya yaitu Amerika. senang rasanya menikmati How To Train Your Dragon 3D di awal2 pemutaran, apalagi isi filmnya juga diluar ekspektasi semua pihak hingga menjadikannya hiburan yang terasa surprise bagi penonton termasuk saya pribadi.

1. Alice In Wonderlnad 3D
2. Confucius
3. How To Train Your Dragon 3D

Kemudian ada Confucius yang saya tonton dengan tanpa pertimbangan apapun di CITO 21, bagi saya faktor Chow Yun Fat sudah cukup membantu meski Forbidden Kingdom masih menjadi luka yang dalam karena keterlibatannya disana. dan ka booommm, film ini sukses membuat saya ngantuk dan beberapa kali merasakan kursi bioskop terasa kurang nyaman. bukan, bukan karena bioskop dan kursinya yang buruk, namun saya merasakan kegelisahan tentang film yang sangat lambat ini. apalagi penonton disebelah saya sedang bercinta didalam bioskop hingga beberapa kali kursi bioskopserasa bergoyang, hei hari gini masih bercinta didalam gedung bioskop??? come on guys kalian tentu membuat saya tersinggung sebagai pencinta film.

Dari ketiga film yang saya tonton bulan ini (Maret), pemenangnya tentu saya sematkan kepada Hiccup karena telah berhasil menjinakkan berbagai Naga dan jenisnya dalam film How To Train Your Dragon. film ini sangat menghibur bagi saya, dan kelihatannya begitu pula dengan penonton lain yang beberapa kali tertawa lepas saat menyaksikan film ini. juara kedua dengan berat hati saya berikan kepada Alice yang berencana pergi ke Borneo dan Sumatra setelah mengetahui ayahnya dulu pernah pergi ke Jakarta, hmm nduk Alice nggak pengen ke probolinggo?? ntar tak masakin kelinci panggang lho wkwkwkwkwkwkwkwk. btw, semoga film dibulan april tidak mengecewakan saya lagi. karena bagaimanapun akan selalu ada cerita dibalik tiket bioskop yang sudah susah payah saya beli, namun hal itu juga tidak menyurutkan saya untuk terus nonton film di bioskop karena bagi saya nonton dibioskop itu lebih nikmat daripada nonton lewat DVD Bajakan, salam moviemania..

Movie Review : How To Train Your Dragon 3D - (2010)

SUTOS XXI, Row, Studio, 22 Maret 2010, Runtime, Rp 25.000
Mencuri kesempatan buat nonton film ditengah himpitan acara dikampus ternyata susah juga, apalagi setelah temen2ku tau kalo aku sering nonton film dibioskop membuat mereka begitu cepet mengendus keberadaanku. How To Train Your Dragon 3D, itulah judul yang sukses kulahap tadi siank. well film yang dibuat oleh perusahaan film animasi keren saingan Pixar yaitu Dreamwork tahun ini mnegeluarkan 3 judul untuk awal tahun adalah How To Train Your Dragon, Shrek Forever After untuk tengah atau musim panas, dan Megamind untuk show akhir tahun 2010. bagi saya pribadi susah untuk memihak studio ini sebagai barometer film animasi bermutu meski Madagascar dan Kungfu Panda sukses menarik perhatian, apalagi serial Shrek yang tahun ini merupakan seri yang keempat kalinya. berbicara dua studio diatas, Pixar rasa2nya masih nomer satu menurut selera pribadi saya. sedangkan Dreamwork sejatinya hanya bertujuan menghibur dengan pamer aktor/aktris terkenal sebagai dagangannya, jadi naskah kebanyakan bagi mereka adalah prioritas nomer sekian. begitupun dengan film ini, dibuat sangat menghibur layaknya Kungfu Panda yang menggemeskan. tapi jangan salah, meski film ini sangat menghibur film ini juga tidak lantas membiarkan naskahnya terhanyut oleh visualisasinya yang memanjakan mata, karena kali ini Dreamwork mulai sadar bahwa naskah juga sangat penting untuk memajukan sebuah film kearah yang lebih baik.

Sinopsis : How To Train Your Dragon memusatkan cerita tentang mitos dunia Viking dan naga. Berkisah seorang pemuda Viking bernama Hiccup (Jay Baruchel), hidup di pulau Berk, dimana melawan naga adalah cara untuk bertahan hidup. Pemuda pintar dan humoris ini diragukan kemampuannya oleh kepala sukunya sekaligus ayahnya, Stoick the Vast (Gerard Butler). Meskipun demikian, saat Hiccup diikutsertakan dalam pelatihan melawan naga bersama pemuda lainnya, ia dapat membuktikan bahwa ia siap menjadi seorang petarung. Setelah ia berhasil menaklukkan seekor naga dengan meriam batu, Hiccup akhirnya berkawan dengan naga yang paling ganas dan ia beri nama Toothless (Tak Bergigi). Pertemanan ini membuanya tersadar bahwa warga Berk tidak membutuhkan pemburu-naga


Cast : Jay Baruchel, America Ferrera, Jonah Hill, Gerard Butler, Christopher Mintz-Plasse, Craig Ferguson 
Director : Chris Sanders dan Dean Deblois
Screenplay : Adam F. Goldberg, Peter Tolan, dan Dean Deblois
Produser : Bonnie Arnold, Michael Connolly, dan Tim Johnson
Release Date : 20 Maret 2010 (Indonesia)
Distributors : Paramount Pictures
Run Time : 98 Menit
Genre : Animasi

Seolah-olah termakan trend perfilman Hollywood belakangan ini, film How To Train Your Dragon juga memakai teknology 3D untuk Bioskop 3D, RealD, dan IMAX 3D. hebatnya lagi, khusus film ini adalah untuk pertama kalinya sebuah film 3D disediain subtitle indonesia untuk memudahkan mengikuti jalan cerita filmnya terutama anak kecil yang memang target penontonnya. sebuah langkah positif yang layak diapresiasi lebih mengingat tidak semua penonton indonesia paham dengan sangat dalam berbahasa inggris terutama bagian listening. balik ke cerita filmnya, bagi saya film ini sangat lah mengejutkan untuk ukuran Dreamwork. bagaimana tidak, sebelum film ini dirilis bagi saya Dreamwork akhir2 ini sudah seperti kehabisan ide meski tiap tahun mereka mampu menelurkan 2-3 film secara kontinyu, namun terbaik dari seri Dreamwork tetaplah Kungfu Panda dan Madagascar yang lucu namun mempunyai nilai jual yang tidak bisa dianggap remeh meski tetap Pixar-lah juara akhirnya. kemudian film ini datang di waktu yang tepat, filmnya sangat menghibur bagi saya, karakter2nya hidup, dan visualisasinya keren terutama adegan2 khas 3D-nya yang memanjakan mata, serta eksekusi menjelang endingnya yang semakin menguatkan bahwa naskahnya kali ini memang tidak dibuat asal jadi.

How To Train Your Dragon Movie Trailers



Memorable Quote
Hiccup : Everything we know about them is wrong.
Sepertinya film ini pun merupakan film terbaik kedua yang dibintangi oleh Gerard Butler setelah 300 tahun 2007 silam, meski kali ini dia hanya meminjamkan suaranya saja.demikian pula dengan jay Baruchel yang meski terdengar asing namun suaranya pas disini, sementarayang lainnya masih tetap prima meski tetap semua penilaian terkonsentrasi kepada dua tokoh diatas. untuk sebuah tontonan dari Dreamwork, inilah karya paling baik dari studio yang juga pernah sukses membuat Kungfu Panda ini. kualitas naskah yang bagus dengan tambahan twist diakhir, pemain yang kuat, dan adegan yang seru dan mendebarkan serta tanpa menghlangkan peran utama sebagai tontonan anak-anak yang jenaka, serta effect 3D-nya menjadi tayangan paling top ditahun 2010 yang sudah berjalan 3 bulan ini.

Well, film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton dibioskop terutama bioskop 3D. tenang, bagi yang kurang paham bahasa inggris film ini sudah menyediakan teks subtitle Indonesia kok jadi akan menajdi lebih mudah dipahami oleh semua penonton.

Movie Scene Selection

Movie Review : Confucius (2010)


CITO 21, Row A-8, Studio 2, Wednesday March 17th 2010, Time 12.00, IDR 15.000
-----------------------------------------------------------------------------------------------

Well, Minggu ini adalah puncak tentang apa yang tidak kupercaya untuk datang dan kemudian berlalu. pada awalnya hanya berniat untuk liburan sejenak karena nunggu dosen belum ketemu2 hingga satu bulan sekaligus menghindari ancaman penyiksaan yang akan menimpa diri saya karena pada tanggal 16 Maret kemaren atau pas dengan Hari Raya Nyepi bagi yang beragama Hindu, hari itu adalah hari Ulang Tahunku. jadi hari kamis kemaren saya sudah buru2 kabur pulang kampung daripada dijadiin tontonan gratis masyarakat Jawa 2 kan malu, btw berbicara tentang umur bolehlah angka umur kita bertambah namun perlu diingat pula disaat yang bersamaan usia dan jatah hidup kita akan selalu makin berkurang. meski pada minggu ini adalah minggu pailing kelam sepanjang tahun 2010, namun kok kumalah cuma tersenyum aja ya? entahlah yang jelas ada kejanggalan dalam hati saya bercampur aduk tapi setelah diolah menjadi bahan senyuman dan pelajaran menarik bagi saya pribadi. okelah kalo begitu (katanya The Warteg Band), hampir semua rencana ulang tahunku batal namun biar nggak ancur-ancur banget maka tadi siang nyoba nonton film di bioskop siapa tau bisa menjadi hiburan di hari ultah yang kelam ini. dari sekian judul yang nangkring di bioskop, saya memilih Confucius. kandidat kuat selain film ini adalah The Wolfman, namun kok kayaknya lebih keren Confucius ya? akhirnya saya memutuskan untuk nonton film yang dibintangi Cow Yun Fat ini.


Cast : Chow Yun Fat, Xun Zhou, Yi Lu, Jianbin Chen, Yu Lao, Kaili Zhang, Quan Ren, Huang Jiao, Ban Wang.
Director : Mei Hu
Release Date : 28 January 2010 (China)
Genre : Biography/Drama
Run Time : 130 Menit
Distributors : Beijing Dady Century Limited

Cerita film ini menitik beratkan tentang sepak terjang Kong Qiu (Fat)  pada tahun 551 SM yang pada awalnya hanyalah seorang miskin di kerajaan Lu, kemudian karena pendidikannya Kong atau yang kini kita kenal dengan Kong Fu Cu dia diankat menjadi menteri Hukum dan kemudian diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri. namun semakin naiknya pangkat Kong, Jendral Ji melihat ini sebagai ancaman untuk kelangsungan kerajaan Lu meski pada awalnya Kong berhasil menguasai 3 wilayah. dan kemudian Kong beserta murid kesayangannya merantau dari negeri satu kenegeri lainnya untuk menyebarkan paham konfusianisme, dan kemudian kembali ke kerajaan Lu untuk mengajarkan paham tentang filsafat sosial berkaitan dengan etika dan kesopanan keseluruh masyarakat.


Btw, dengan durasi yang lumayan panjang film ini pun berjalan begitu lambat. bisa dimaklumi memang, meski terbukti film ini sukses dijauhi penonton karena tadi pas nonton jumlah penonton untuk film ini hanya sekitar 10 orang saja (prihatin mode on). untuk urusan teknis, saya kok agak kurang begitu sreg dengan alurnya. yang lumayan bagus adalah petuah2nya serta ketulusan Kong dalam mengajarkan ilmunya kepada orang lain beserta murid2 setianya yang rela berkorban demi gurunya ini, selain itu akting Cow Yun Fat disini sangat baik. yang bikin penasaran adalah pemeran ratu Wei yang cantik banget (serius, dia cantik banget di film ini). selain akting, visualisasi film ini terlalu kusam layaknya film mongol serta dengan special effect yang tanggung dan sangat terlihat banget bohongannya.

Finally, film ini bagi saya kurang menghibur karena sejatinya memang bertujuan memberikan pemahaman bagi penontonnya. yang menghibur pas nonton film adalah pasangan pacaran muda-mudi disebelah saya yang mulai bercinta sejak film dimulai. btw, pada akhirnya seberapa pun luka yang masih terasa perih ini, hidup harus tetap berlanjut dan biarlah menjadi sejarah yang tak perlu dihapus namun sebagai tamparan supaya kedepan kita menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya, well moment yang pas dengan ultah kali ini. dan semoga sukses..
Well, akhirnya pergelaran oscar kelar juga. banyak yang unpredictable ada pula yang sudah dirasa pasti menang, dari pada pusing mikirin tebak2an yang ternyata keliru maka nggak ada salahnya untuk nonton film yang sekiranya tidak terlalu membuat pusing kepala karena sangking ruwetnya jalan cerita seputar oscar dan film-film yang dilombakan. film-film berat seperti Up In The Air, Invictus, dan lain-lain mungkin memang berkualitas tinggi, namun tidak dapat dipungkiri pula bahwa film adalah seni yang dapat menghibur penontonnya. jadi biar nggak tambah mumet, film seperti itu untuk sementara waktu kutingglkan dimeja. btw dipilihlah film ini, sebuah film tentang mitology yunani yang anehnya digabungkan dengan sensasi modern ala Amerika. kalo boleh menilai awal sih film kayak beginian biasanya pol-polannya paling cuma dari segi special effect, namun khusus film ini pun oscar tak kunjung datang untuk memeberinya sebuah nominasi yang dimaksud dengan alasan bahwa pendaftaran sudah ditutup :D eniwey, saya sebelumnya kurang begitu paham tentang sejarah mitology yunani selain yang sudah populer semacam Medusa, Zeus, dan Hercules. namun akhirnya krisis pengetahuan tersebut hilang karena penjelasan temenku bernama Dany yang menjelaskan secara singkat namun singkat tentang sejarah tersebut, dan bahkan sampai perbedaan dengan beberapa sejarah yang mirip dengannya.

Cast : Logan Lerman, Brandon T. Jackson, Alexandra Daddario, Jake Abel, Sean Bean, Pierce Brosnan, Steve Coogan, Rosario Dawson, melina Kanakaredes, Catherine Keener, Kevin McKidd, Joe Pantoliano, Uma Thurman.
Director : Chris Colombus
Screenplay : Craig Titley (Screenplay) Rick Riordan (Novel)
Release Date : 10 February 2010 (Indonesia)
Run Time : 118 Menit
Distributors : Fox 2000 Pictures


The Review : sebelum berbicara tentang isi kandungan vitamin beserta racun dalam filmnya, marilah sejenak kuceritakan dulu kisahnya. btw Percy (Logan Lerman) yang sebelumnya adalah bocah sekolahan ternyata adalah salah satu anak dewa yunani yaitu Poseidon (kevin McKidd), well diapun dituduh mencuri senjata paling mahsyur yang pernah ada yang dibuat oleh Zeus (Sean Bean). jelaslah Percy bukan pencurinya, namun mau tidak mau harus berjuang bersama pelindungnya Grover dan anak dewi Athena yaitu Annabeth karena selain mengembalikan nama baiknya, dia juga harus menyelamatkan ibunya yang dicuri oleh Hades (Steve Coogan). eniwey, setelah selesai menceritakan plotnya saya ingin bercerita tentang pendapat saya untuk film ini. secara umum film ini menyenangkan untuk seukuran bocah SMP namun sangat menyakitkan untuk dicerna oleh orang dewasa, ceritanya berjalan datar dan monoton serta terlalu menggampangkan sesuatu. dimuali dari alasan para dewa beserta anaknya dan para penghuni makhluk ajaibnya memakai seragam Romawi, berlatih pedang-pedagangan hei watdehelisdet??? bukankah mereka dewa yang minimal bisa mengangkat batu hingga menagwang-awang diangkasa? apalagi Percy juga berasal dari dunia modern yang mahir bermain teknology canggih ya minmal bisa menggunakan senjata semisal bom-lah. dari inti cerita tentang curi-mencuri senjata kenapa Zeus begitu mudahnya memfitnah Percy yang masih anak ingusan? bukankah Zeus adalah dewa paling keren se-yunani yang minimal bisa nerawang siapa yang nyuri senjatanya, apalgi yg dicuri adalah miliknya sendiri yang biasanya terdapat hal-hal yang mudah dideteksi olehnya. acara jumpa pers antara Zeus dan Poseidon yang dilakukan sangat nggak masuk akal, karena kalo cuma mau bertemu dan cangkrukan ngobrolin tentang dunia kan bisa bertemu langsung di Olympus dari pada di pelabuhan. btw ternyata akses untuk masuk ke dunia para dewa yunani bukan di negara Yunani, melainkan di empire state building dan los angeles. parahnya itu di Amerika, okelah kalo begitu (dengan logat The Warteg Band, hehe) well, menurut kabar katanya karakter Percy seharusnya berumur 11 tahun eh malah disini berumur 17 tahun?? finally, banyak hal mengganggu memang namun film juga bukan tanpa kelebihan. yaitu sebagai hiburan belaka, nah kalo mau nyari yang serius tentang mitology yunani maka Clash Of The Titans yang dirilis tanggal 2 April depan haruslah ditunggu kedatangannya. i can wait..

Memorable Quote :
Chiron: Use this to defend yourself. It's a powerful weapon.
Percy Jackson: This is a pen.
Chiron: Only use it in times of severe distress.
Percy Jackson: This is a pen.
Score :
Cerita : 5/10 - Akting : 6/10 - Ending : 5/10 - Total : 6/10


Movie Scene Gallery :

Related Posts with Thumbnails
top